Menjenguk Galeri Sultan Azlan Shah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Galeri Azlan
Sumber : Dewa

Oleh Dedy Hutajulu

MEGA mendung ketika bus yang kami tumpangi berhenti di pintu gerbang Galeri Sultan Azlan Shah. Awan menggumpal. Berat.  Tak lama berselang, hujan mengguyur bumi. Kami, para rombongan wartawan dari Medan segera menghambur menyelamatkan diri dari gempuran air hujan.







Hujan telah mengganggu aktivitas kami memotret sudut-sudut galeri itu dari luar.  Celakanya, bagian dalam galeri sama sekali tidak boleh dipotret. Ada larangan tertulis di pintu masuk, di sebuah papan. Dan petugas jaga serta pemandu juga mengingatkan sesaat sebelum kami turun dari bus, bahwa larangan memotret isi galeri adalah kebijakan Sultan Perak. Dana da sanksi tegas bagi siapa saja yang tak mengindahkannya.

Sesaat para wartawan kesal karena tak ada gambar dalam galeri yang bisa dibawa pulang. Kendati demikian, kami bebas untuk melihat-lihat isi galeri tersebut. Galeri ini dibangun dengan arsitektur yang menawan. Dibikin sesuai standar galeri internasional. Jika diperhatikan, galeri Sultan Azlan Shah terbagi dalam dua bagian.

Gedung utama yang berbentuk istana memuat benda-benda yang menggambarkan kekuasaan dan citra seorang Sultan Perak. Di dalam galeri ini, berdiri tegak patung sultan dan permaisurinya. Ada sejumlah pakaian Sultan. Ada foto-foto tetamu yang pernah melawatnya. Tak lupa ada banyak keris, bentuk rumah adat melayu, pakaian Sultan,  yang ke semuanya memperkuat kedigdayaan Sultan.

Galery Sultan




Sedang bangunan  di depan gedung utama lebih banyak memuat koleksi-koleksi sultan. Ada mobil Roll Roys beberapa unit, sepeda motor gede yang pernah dipakainya ketika menjabat sebagai penegak hukum, maket kapal (laut) perang Inggris dua unit, kereta kencana yang digunakan untuk menandu Sultan, senjata  api, sejumlah keris, jubah , pistol, miniatur rumah adat melayu, kalung, alat musik melayu, gitar, beberapa keramik, sejumlah photo-poto kunjungan Ratu Elizabeth II dan lainnya.

 Sedangkan gedung bagian samping terbentang panjang ke depan. Dua lantai. Saat kami sambangi, gedung tersebut tertutup.  Toilet dalam ukuran besar ada di belakang gedung galeri. Ad ataman di kiri kanan. Kolam berair jernih dibangun di depan gedung utama galeri dan di anatar selasar gedung kedua. Pintu masuk harus melewati satu pos penjualan tiket. Setelah mengantongi tiket masuk, barulah pengunjung bisa melewati pintu gerbang.

Menelusuri galeri sultan ini, kesan kebesaran Sultan begitu kentara. Eksotisme dan kemewahan begitu menonjol. Lantas siapakah gerangan pemilik ide dibalik galeri mewah dan megah ini. Situs http://gsas.perak.gov.my/ menyebut galeri ini lahir dari ide-ide Mulia Sultan Azlan Shah Muhibbuddin.

Galeri ini dibuka untuk public sebagai bagian refleksi atas perjalanan hidupnya. Lebih jauh situs ini menambahkan, galeri Sultan Azlan Shah dibangun kembali dari benteng Istana Ulu tua. Istana Ulu, di Bukit Chandan, Kuala Kangsar. Cukup dekat dengan land mark Masjid Ubudiyah. Mulanya, benteng ini merupakan tempet bermukim Sultan ke-28 Negeri Perak, Sultan Idris Mursyidul ‘Adzam Shah yang memerintah 1887-1916.

Menurut sejarah, desain atap galeri yangberbentuk limas dipengaruhi budaya dan seni dari Aceh, sedangkan kubah pada kedua menara depan, disebut-sebut sebagai pengaruh arsitektur India. Sedangkan ukiran kayu di dalam istana merupakan karya Raja Harun Al-Rasyid, seorang pematung terkenal di zaman itu.

 Kami tidak berlama-lama di galeri ini, berhubung jam berkunjung hampir habis. Dan kedatangan kami kurang pas, karena tidak ada pemandu yang bisa memberi penjelasan, sebab hari itu adalah Minggu. Minggu adalah hari libur. Sehingga tidak ada petugas yang bisa menjadi pemandu di sana. Kami lekas beranjak meninggalkan galeri ketika hujan sedang deras-derasnya. Kami pulang dengan segumpal rasa kagum di dada. Kagum pada ketangguhan Sultan mengoleksi begitu banyak barang-barang berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.