Kellie’s Castle: Cinta Tak Berujung

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Oleh: Dedy Hutajulu

ADA orang bilang, Kastil Kellie adalah bukti cintanya pada kekasih hati. Yang lain menyebut, istana tersebut hanya upaya meningkatkan strata sosial. Sebagian lagi mengatakan, kastil ini, tak lain, buah kecongkakan yang kalah oleh zaman. Namun dari semua buah bibir itu, kisah asmara selalu mendapat tempat di hati banyak orang







***

kellies
Sepasang sendal putus tergeletak di pelataran parkiran, di gerbang masuk Kelli’s Castle. Sepasang kaki pemilik sedal itu berlari kecil memasuki lorong bawah kastil. Lantai ubin yang panas menjerang kaki pemuda tersebut, yang berusaha memotret beberapa sudut istana tersebut.

Istana itu dinamakan sesuai pemiliknya. William Kellie’s Smith. Kellie adalah nama ibunya yang sudah di alam baka. Sebagai bentuk penghargaan, Willam Smith menyematkan nama ibunya itu di tengah namanya. Ia adalah anak ketiga dari lima bersaudara, pasangan peladang miskin asal Skotlandia. Pada usia 20 tahun, William hijrah ke Negeri Malaya untuk mengadu nasib, sebab zaman itu, terjadi revolusi industri di Eropa pada zaman Victoria.

Era industri telah membawa dampak sangat mengerikan bagi sejumlah negara di Eropa. Kemiskinan besar-besaran. tak ada pilihan lain bagi para anak muda selain merantau untuk mengadu nasib. William salah satu pemuda yang ikut merantau ke negeri Malaya. Pemuda kelahiran Dallas, Morray Firth, 1 Maret 1870 itu turut dengan rombongan Carles Alma Baker, seorang perintis jalan bagi Kolonial dari New Zealand. Bersama Alma, William dibawa dalam satu projek pembangunan jalan di Selatan Perak dan di Batu Gajah, Negeri Perak, Malaya yang ini dikenal sebagai Malaysia.




Namun, kerja keras dan kiprahnya telah menempatkan William di jalur sukses. Pada 1896 ia telah membuka firmanya sendiri. Ia kemudian dikontrak untuk pembangunan rel kereta api. Bekerja bersama Alma Baker telah mendatangkan banyak keuntungan. Ia pun mendapatkan 200 hektar tanah di kawasan Batu Gajah. Di lahan itulah, William kemudian mengusahakan sejumlah tanaman, yakni kopi dan tanaman karet.

Ia cepat-cepat meninggalkan kopi karena waktu itu, kopi Brazil menguasai pasar dunia. Lalu ia mengusahakan getah karet. Usaha karetnya menemui kejayaan karena ketika itu permintaan sangat tinggi sebab getah karet digunakan sebagai obat pneumatik.

Ketika ia makin sukses, William bertemu Agnes, seorang dara cantik putri keturunan Peladang Kapas yang kaya-raya. William jatuh hati kepada Agnes. Lalu menikahinya. Sebagai seorang suami, William pun membangun bunglo kayu di tanahnya itu. Bunglo itu dinamai Kellie’s House. Pada 1904, pasangan ini dikarunia seorang anak perempuan yang kemudian dinamai Helen.  Dan sebelas tahun kemudian barulah pasangan ini dikarunia anak bernama Anthony.

Agnes pernah merajuk kepada William karena rumah mereka sempit, lalu sebagai wujud sayangnya kepada istrinya itu, ia bertekad mendirikan sebuah istana. Tak lama setelah kelahiran Helen, William segera meletakkan batu pertama pembangunan istana itu. Waktu itu ia optimis bahwa istana itu bisa terbangun sempurna mengingat istrinya punya warisan  300.000 pounsd yang akan diterimanya dari keluarganya pada 1906. Sedangkan pada 1904, William telah mendapat pinjaman 24.000 pounds dari sebuah firma di Singapura.

Namun, Wiliam mengalami kendala keuangan karena warisan Agnes tak bisa cair. Pun pinjaman tersendat. Bahkan ratusan hewan ternaknya mati terserang penyakit, usaha ladang kopinya merosot ketiak harga kopi anjlok. Maka, modal Willam sangat terkuras, sedangkan pinjaman sulit diperoleh. Ia juga berupaya meminjam dari pihak kolonial inggris sebesar 50.000 pounds, namun pihak kolonoal tidak yakin kalau William mampu memulangkan uang pinjaman itu. William akhirnya tak punya pilihan lain. Ia pun terpaksa menjual dua pertiga dari hartanya di Estate kellie’s yang kini menjadi Kinta Kellas.

Dari penjualan hartanya itu, ia meneruskan pembangunan Istana untuk istrinya itu. Ia bahkan mengimpor 200 kuli asal India. Ia tertarik dengan keterampilan dan daya seni orang-orang India. Namun pada 1914-1918 terjadi perang dunia kedua yang turut berdampak pada upaya pembangunan kastilnya, sebab semakin sulit memasok bahan-bahan bangunan dari Eropa. Bahkan ia mengalami pasang surut ekonomi keluarga yang sangat luar biasa. Ia telah membeli alat penyuling kopi, namun harga kopi anjlok, sementara ia harus membayar upah para buruhnya.

kuil

Pada 1918 merebak wabah penyakit salasema mengakibatkan 70 pekerjanya (warga India) meninggal dunia. Dan kematian itu menjadi pukulan telak bagi William. Namun ia terus bertekad membangun kastil tersebut. Para kuli meminta William untuk membangun kuil bagi mereka, supaya terhindar dari wabah penyakit. Para kuli asal India itu percaya, jika mereka berdoa pada Dewa-dewanya, penyakit itu akan dilalukan dari mereka.

William pun memenuhi permintaan tersebut. Ia lalu membangun kuli hindu bagi para kulinya yang tak lain para tukang plester, tukang batu, tukang talang dan lainnya. Seiring berdirinya kuil tersebut, serangan penyakit salasema mulai menurun. Sehingga hari ini, bisa ditemukan sebuah kuil di sebelah kiri kastil itu berjarak kurang lebih 800 ela. Sebagai bentuk terimakasih para kuli itu, dibangunlah satu patung menyerupai wajah William dan ditaruh di bubungan di antara barisan dewa-dewa mereka.

Salasema belum juga berakhir. Lalu pada 1926, William membawa Helen ke Eropa untuk menjenguk Agnes dan Anthony. Sekalian ia hendak menjemput satu unit lif yang dipesannya dari Lisbon, Portugal, sebelum ia bertolak ke Inggris. Sayang, saat menjemput lif itu, ia meninggal dunia akibat serangan pneumonia pada 11 Desember. Ia kemudian dikebumikan di pekuburan orang Inggris.

Istrinya Agnes segera menjual seluruh harta mereka di Kelli’s Estate dan istana tersebut kepada Horrison & Crossfield sebuah serikat Liverpol yang bergerak di bidang perniagaan teh dan kopi. Namun pihak Crossfield membiarkan kastil ini begitu saja. Tak terurus hingga lebih seabad. Istana tersebut pun dililit semak belukar. Lalu pada 2014, pihak Kerajaan Negeri Perak memaklumkan untuk merawat istana tersebut untuk dijadikan daerah pelancongan. Istana ini kemudian dinamai sesuai dengan pemiliknya William Kellie Smith.

jendela

Kastil ini didesain mereplikasi istana Raj Inggris Raya di India, jika dilihat dari bentuk kubah bawang pembentuk ambang pintu-pintu serta dan model jendelanya. Tetapi ada yang menyebut, kalau model arsitektur istana Kellie ini mirip-mirip dengan gaya masjid Ubudiyah. Memakai perpaduan desain arsitek Roma dan Indo. Ada 14 bilik dalam kastil ini. Ruang ventilasi begitu memadai sehingga memungkinkan pencahayaan dan pertukaran udara terjadi.

Kini, hampir setiap malam, istana ini dibuka bagi wisatawan yang ingin merasakan wisata dunia roh halus. Sebab, kabarnya ada banyak rohhalus gentayangan di istana tersebut. “Kellie’s Castle kini dikenbal sebagai wisata dunia roh,” ujar Zamari Muhyi (50), Operator Kellie’s Castle.

Ia mengatakan sampai saat ini bangunan tersebut tiadak dipugar demi mempertahankan bentuk aslinya. Termasuk juga demi mengawetkan kisah cinta yang tak sampai itu. Ia juga menyebut, ada empat terowongan di bawah istana tersebut. “Terowongan itu pada empat jalur. Salah satunya menuju kuil Sri Mahamariamah Ladang Kinta. Keempat terowongan itu diduga dibikin sebagai jalur evakuasi bila mana ada pihak tertentu hendak membunuh William,” terang Muhyi.

Oleh pihak Pengurus Pelancongan, Kesenian dan Kebudayaan Negeri Perak, Kellie’s Castle atau Agnes Palace dijadikan salah satu tujuan wisata. “Bila ada pelancong yang ingin merasakan sensasi Eropa, kini ada satu istana di Malaysia yang bisa dinikmati. Tak perlu jauh-jauh ke Eropa. Kelli’s Castle juga tak kalah hebat,” ujar Dato’ Nolee Ashalin Mohamed Radzi,  Pengurus Pelancongan, Kesenian dan Kebudayaan Negeri Perak.

tampak belakangkastil

Leave a Reply

Your email address will not be published.