Rawit Masih Penyumbang Inflasi di Medan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | Cabai rawit masih menjadi komoditas utama penyumbang inflasi selama Agustus 2015 dengan andil inflasi 0,0307. Harga bahan penyedap rasa ini terus berada di kisaran harga Rp.45-50 ribu per kilogram selama sebulan terakhir. Faktor kenaikan masih disebabkan pasokan yang minim dari pusat penghasil cabai seperti di Berastagi.

Hingga Kamis (3/9), pasaran cabai ini dipatok Rp 45ribu di Pasar Sentral Kota Medan, sedangkan harga cabai merah berangsur turun menjadi Rp 25ribu/kg, bawang merah dan bawang putih pun demikian masing-masing Rp 18ribu dan Rp 22ribu. Dan yang lebih drastis turun lagi yakni tomat dihargai Rp.3 ribu akibat lonjakan panen di sejumlah wilayah di Sumatera Utara.




Selain cabai rawit, beberapa komponen utama penyumbang inflasi di Medan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut antara lain angkutan udara 0,3793, daging ayam ras 0,1663, beras 0,0959, biaya Sekolah Menengah Atas (SMA) 0,0576, biaya Sekolah Dasar (SD) 0,0490, dan biaya Sekolah Menengah Pertama (SMP) 0,0424.

Agustus 2015, Medan inflasi sebesar 0,59 persen atau terjadi peningkatan indeks dari 122,91 pada bulan Juli 2015 menjadi 123,63 pada bulan Agustus 2015. Inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,07 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,18 persen, kelompok sandang sebesar 0,37 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,07 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 2,25 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 1,86 persen. Sedangkan, penurunan indeks terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 0,15 persen.

Tiga Kota Lain Deflasi

Di tiga kota lain di Sumut yakni Sibolga, Pematangsiantar, dan Padangsidimpuan mengalami deflasi. Komponen bahan makanan umumnya menjadi kontributor utama penyebab deflasi. Deflasi 0,73 persen di Sibolga terutama dipengaruhi penurunan harga ikan gembung, minyak goreng, cabai merah, cumi-cumi, dan bayam.




Deflasi di Pematangsiantar 0,20 persen terutama dipengaruhi penurunan bawang merah, tomat buah, cabai merah, jeruk, ikan gembung, dan minyak goreng. Deflasi di Padangsidimpuan 0,33 persen dipicu penurunan harga angkutan dalam kota dan antar kota, bawang merah, ikan gembung, tongkol, dencis, dan kangkung. Selama Agustus 2015 Sumut inflasi 0,42 persen.

Dari 23 kota IHK di Pulau Sumatera, 15 kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 2,29 persen dengan IHK 128,17 dan inflasi terendah terjadi di Bungo sebesar 0,23 persen dengan IHK 119,45. Sedangkan 8 (delapan) kota lainnya mengalami deflasi, dimana deflasi tertinggi terjadi di Sibolga sebesar 0,73 persen dengan IHK 122,41 dan deflasi terendah terjadi di Lhokseumawe sebesar 0,15 persen dengan IHK 115,70.
Di Indonesia, pada bulan Agustus 2015 dari 82 kota yang diamati Indeks Harga Konsumennya (IHK), 59 kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 2,29 persen dengan IHK 128,17 dan inflasi terendah terjadi di Sumenep, Kediri dan Probolinggo sebesar 0,02 persen dengan IHK masing-masing 118,76; 119,65; dan 120,36. Sedangkan 23 kota lainnya mengalami deflasi, dimana deflasi tertinggi terjadi di Ambon sebesar 1,77 persen dengan IHK 119,95 dan inflasi terendah terjadi di Singkawang sebesar 0,01 persen dengan IHK 120,88. Sementara itu, secara nasional pada bulan Agustus terjadi inflasi sebesar 0,39 persen dengan IHK 121,73. (ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.