Mengenal Produk ETF

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Exchange Trade Fund (ETF) mungkin masih asing di kalangan investor di Indonesia. Tetapi di negara-negara maju, Amerika Serikat contohnya, produk ini cukup populer sebagai alternatif investasi. ETF adalah salah satu produk investasi yang diperjualbelikan di Bursa Efek. Produk ini hampir sama dengan reksa dana konvensional. Bisa juga disebut ETF adalah reksa dana yang dicatatkan dan diperjualbelikan di Bursa Efek.

Seperti reksa dana, ETF merupakan Kontrak Investasi Kolektif (KIK) antara Manajer Investasi (MI) dan Bank Kustodian (BK). Bedanya, unit penyertaan ETF dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa, seperti saham. Sementara reksa dana konvensional tidak dicatatkan di Bursa. Investor bisa membeli dan menjual reksa dana melalui wakil agen penjual reksa dana di bank atau langsung ke MI. Sedangkan investor ETF membeli dan menjual melalui broker.




Saat ini sudah ada beberapa  ETF yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), salah satunya Premier ETF LQ45 dengan kode perdagangan di Bursa R-LQ45X yang diterbitkan PT Indopremier Investment Management (IIM), yang menjadikan Indeks LQ45 sebagai underlying. IIM juga menerbitkan ETF berkode XIIT, XIJI, XIIC, XISR, XISI, dan XIIF. Selain IIM penerbit ETF adalah Bahana TCW Investment Management (BTIM) dengan ETF berkode R-ABFII. Baru dua MI yang hingga saat ini menerbitkan ETF di BEI.

Karena diperdagangkan di Bursa Efek, investor dapat membeli atau menjual ETF sepanjang jam transaksi Bursa dengan harga dan waktu yang dikehendaki. Maksudnya, investor bisa melihat pergerakan harga ETF di Bursa dan memasukkan order beli pada harga yang sesuai dengan keinginan investor. Berbeda dengan reksa dana konvensional yang hanya bisa dibeli pada harga (NAB/UP) di akhir jam perdagangan Bursa.

ETF memiliki keuntungan lebih dibanding reksa dana dalam hal timing waktu menjual atau membeli. Jika pada siang hari ada informasi yang menyebabkan harga-harga saham terkoreksi, misalnya, investor bisa menjual ETF miliknya saat itu juga. Sehingga terhindar dari koreksi harga yang semakin dalam. Bandingkan bila investor ingin menjual reksa dana konvensional saat pasar sedang jatuh. Maka hanya bisa dilakukan penjualan mengacu pada harga Efek pada penutupan pasar yang bisa jadi sudah terkoreksi jauh lebih besar dibanding harga pada siang hari.

Biaya ETF relatif lebih murah. Selain biaya manajer investasi dan biaya bank kustodian, investor hanya perlu mengeluarkan biaya broker (transaction fee) pada saat melakukan pembelian atau penjualan reksa dana ETF di Bursa Efek. Berbeda dengan transaksi reksa dana konvesional yang menangung biaya subscription fee dan redemption fee yang biasanya relatif lebih mahal dari transaction fee kepada perusahaan Efek.




Kelebihan lain dari ETF, yaitu transaksi mudah dilakukan. Investor tidak perlu mengisi formulir pembelian atau penjualan untuk bertransaksi ETF. Cukup dengan membuka aplikasi trading online dari broker (sekuritas) dan bertransaksi seperti jual beli saham biasa. Dana yang diterima dari penjualan ETF akan diterima di rekening investor yang ada di broker pada T+3 (3 hari bursa). Bandingkan dengan reksa dana biasa yang dapat diterima hingga T +7 (7 hari bursa).

Namun, selain kelebihannya, ETF juga memiliki risiko. Risiko terutama adalah likuiditas. Likuid artinya, ETF bisa dijual kapanpun di bursa. Artinya setiap ada investor yang ingin menjual ada yang akan membeli. Begitupun sebaliknya, jika investor ingin membeli ETF akan ada pihak lawan yang menjualnya. Saat ini, perdagangan ETF di Indonesia masih kurang aktif atau kurang likuid. Penyebabnya terutama karena belum banyak investor yang memahami produk ini dan jumlah instrumennya yang masih terbatas.

Contoh, ETF yang memiliki underlying indeks LQ45. Ketika indeks tersebut naik 1%, seharusnya harga ETF juga naik 1%. Tetapi karena pasarnya tidak likuid, investor yang mau membeli dengan harga sesungguhnya tidak ada. Yang ada investor yang menawar harga di bawah kenaikan indeks. Alhasil investor yang membutuhkan dana terpaksa menjual di harga diskon atau tidak sesuai dengan underlying.

Perbedaan antara ETF dengan Reksa Dana Open Ended

 

Fitur ETF Reksa Dana Open – Ended
Perdagangan Diperdagangkan di Bursa Efek selama jam bursa Melalui MI atau Agen Penjual
Minimum Investasi 1 lot untuk pasar sekunder Bervariasi (masing-masing RD)
Harga Khusus Reksa Dana ETF LQ45 mengikuti trend kenaikan / penurunan indeks LQ45 & juga terdapat premium / discount atas Bid / Offer untuk disesuaikan dengan permintaan pasar Ditentukan oleh NAB RD
Pengumuman Harga Ditampilkan secara berkesinambungan oleh Bursa Efek selama jam perdagangan Diumumkan satu kali oleh MI berdasarkan perhitungan NAB
Market Making Memiliki market maker (Liquidity Provider) Tidak ada
Efek Derivatif Beberapa ETF memiliki option dan atau futures atas underlying berupa indeks atau ETF itu sendiri Tidak ada

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.