Ekspor Sumut Terus Merosot Empat Tahun Terakhir

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | Kurun empat tahun terakhir nilai ekspor Sumatera Utara terus merosot. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, menunjukkan, pada 2012 nilai ekspor turun menjadi US$ 10,393 miliar dari US$11,883 miliar, pada 2013 nilainya turun kembali menjadi US$ 9,598 miliar, dan pada 2014 turun lagi menjadi US$ 9,361 miliar, dan hal yang sama bila dibandingkan secara tingkat tahunan Juni 2014 ke Juni 2015, turun sekitar 2 persen.

Penurunan ini terjadi pada sejumlah negara tujuan utama di antaranya Tiongkok, Jepang, Pakistan, Bangladesh, Amerika Serikat, Belanda, Kamboja, Rusia, dan Afrika Selatan. Namun, apabila dibandingkan secara tahunan sejak 2012 hingga ke 2015, negara yang nilai ekspornya terus merosot yaitu Tiongkok, Jepang, dan India.
Ditinjau berdasarkan sektor, periode Juni 2014 ke Juni 2015, sektor industri yang paling mengalami penurunan besar sektor industri US$698,17 juta atau -19,20 persen, sektor pertanian turun US$202,67 juta  atau -18,89 persen, sektor pertambangan dan penggalian turun US$10,30 juta atau -97,91 persen, dan sektor minyak dan gas turun US$0,05 juta atau -62,16 persen.




Terutama Karet

Tiga komoditas utama di sektor pertanian yang diekspor di antaranya kelapa sawit, karet dan kopi. Kinerja ekspor karet yang paling berperforma buruk akibat permintaan dunia terus merosot. Selain itu, dampak penurunan harga minyak mentah turut menekan permintaan terhadap komoditas ini. Ekspor karet dan barang dari karet bila dibandingkan secara tahunan Januari-Mei 2014 ke Januari-Mei 2015 merosot 26,36 persen.
Penurunan permintaan karet terutama berasal dari Tiongkok, India, Jepang, AS, dan Kanada. Masing-masing negara tersebut selama April periode yang sama merosot 46,39 persen, 34,76 persen, 27,31 persen, 4,04 persen, dan 3,47 persen. Penyebab lesunya permintaan di Tiongkok dilatarbelakangi perlambatan pertumbuhan. Di India, sebuah laporan menyebutkan impor karet yang murah telah merusak industri domestik negara tersebut.

Menurut informasi dari sebuah industri, lebih dari 1.500 ton karet masuk ke negara itu dalam empat bulan terakhir, yaitu sekitar 50 persen dari konsumsi domestik. Ini menyebabkan banyak perusahaan India mengurangi produksi karena mereka tidak sanggup untuk bersaing dengan harga yang rendah. Pemerintah setempat bertujuan untuk mengekang impor dan membantu para petani dengan memberikan subsidi.

Pengamat Ekonomi yang juga Penasehat Investasi Panin Sekuritas mengemukakan, tahun ini, Amerika Serikat menjadi satu-satunya lokomotif ekonomi global. Pemulihan di Negeri Paman Sam itu kontras dengan Eropa, Jepang, dan Tiongkok. Uni Eropa sedang menghadapi ancaman deflasi dan krisis, bahkan potensi perpecahan politik di negara anggota. Jepang pun turut mengalami deflasi dan kelesuan, sedangkan Tiongkok masih diliputi berbagai persoalan




“Sektor komoditas pertanian dan pertambangan paling terkena imbas akibat permintaan dari Tiongkok, Eropa dan Jepang merosot. Ketidakpastian timing penaikan Fed rate dan kekhawatiran akan pertumbuhan ekonomi global menyusul perlambatan Tiongkok terus menjadi faktor penggerak ekspor ” ujar Darmin.

Akibat penurunan ekspor yang berlanjut, Pengamat Ekonomi dari Unimed, Muhammad Ishak, mengatakan fokus pemerintah harus bertitik berat pemerintah adalah masalah muatan lokal yang harus dioptimalkan perannya. (rls/ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.