Tiga Halangan Utama Pengusaha Sawit Sumut

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | Jajak pendapat atau diskusi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) Sumut kepada para pelaku usaha kelapa sawit di Sumut menemukan ada 3 halangan utama yang dihadapi oleh pengusaha kelapa sawit. Di antaranya, permintaan lesu, permasalahan suplai, dan dukungan pemerintah dan kredit perbankan yang kurang, ungkap Kepala Perwakilan BI Sumut, Difi A Johansyah, Rabu (27/8), dalam seminar ISEI.

Sejak 2011, Sumut memiliki 3 komoditas ekspor utama yaitu kelapa sawit, karet dan kopi. Kinerja ekspor kelapa sawit sejak 2011 tetap berada di level 40% ekspor Sumut saat kontribusi komoditas lainnya merosot dan harga CPO melemah. Secara umum hasil olahan kelapa sawit memiliki proporsi yang relatif tetap antara CPO dan PKO (biji) antara 80 persen dan 20 persen.




Pada 2012, ekspor kelapa sawit masih didominasi CPO. Setelah tahun tersebut, industri turunan kelapa sawit mulai tumbuh di Sumut dengan pola yang terus meningkat. Meskipun demikian memasuki akhir 2014, harga kelapa sawit internasional merosot (<USD750/ton) menyebabkan eksportir lebih memilih untuk mengekspor dalam bentuk CPO karena pajak dihapuskan apabila harga di bawah level tertentu. Akibatnya proporsi ekspor CPO meningkat dari 5 persen  selama Oktober 2013-September 2014 menjadi 13 persen periode Juli 2014- Juni 2015.

Difi menjelaskan, saat ini kredit untuk usaha kelapa sawit adalah salah satu kredit utama yang disalurkan di Sumut dengan share pada Juni 2015 22 persen terhadap total kredit Sumut. Besaran kredit tersebut telah meningkat sejak Desember 2011 saat share kredit hanya sekitar 16%. Sejak itu pertumbuhan kredit kelapa sawit di Sumut relatif selalu berada di atas pertumbuhan total kredit di Sumut.

Namun, pelaku usaha, katanya, mengaku kekurangan pasokan kredit. Jika dilihat dari alokasi sektoralnya, kredit masih dialokasikan mayoritas untuk sektor perkebunan dengan proprosi hampir 60 persen sementara untuk sektor industri pengolahan dan perdagangan relatif lebih sedikit. Bagi pengusaha di sektor industri pengolahan dan perdagangan yang memiliki akses langsung ke luar negeri dan pendapatan dalam dolar (ekspor), kredit dari bank di luar negeri mulai menjadi opsi.

Sejak 2014, tercatat mulai adanya kredit dari bank di luar negeri yang berbentuk dolar. Saat ini proporsinya hanya sekitar 3 persen, namun hasil diskusi dengan pelaku usaha eksportir, kredit dari bank luar negeri mulai menjadi opsi dengan pertimbangan pertama suku bunga yang jauh lebih rendah  atau sekitar 3% dibandingkan dengan suku bunga Indonesia yang 11%. Kedua, sebagai bentuk natural hedging terhadap pendapatannya yang berdenominasi dolar. Ketiga, pasokan kredit yang lebih mumpuni karena rasio LDR di luar negeri lebih tinggi sehingga bank luar lebih mampu memasok kebutuhan yang berjumlah banyak.




Sejalan dengan pendapat para pembicara dalam seminar,  BI Sumut menyatakan hal yang perlu dilakukan adalah pengembangan industri pengolahan. “Agar kita tidak terlalu bergantung pada ekspor komoditas di tengah situasi global saat ini, diperlukan penciptaan lingkungan yang kondusif supaya industri pengolahan dapat berkembang. Untuk itu perlu ditambahkan perlunya dukungan teknologi, infrastruktur, sumber daya manusia, dan bahan baku,” jelasnya, sebagaimana yang dikutip dalam bahan presentasi.

Peran perbankan mendorong pertumbuhan kegiatan usaha kelapa sawit antara lain RBB bank di Sumatera Utara menyatakan penyaluran kredit untuk sektor pertanian dan perkebunan pada tahun 2016  akan ditingkatkan hingga 13,3 persen, dana idle dari CSF dapatdimanfaatkan oleh sektor perbankan untuk mendorong pengembangan usaha kelapa sawit yang bernilai tambah tinggi (sebagai jaminan pada bank untuk penyaluran kredit khusus kelapa sawit), dan Pemberdayaan BPD melalui peningkatan kualitas aset pada kredit yang merupakan regional champion.(rls/ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.