Moneter Global Bergejolak, Emas Dilirik

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com
Pasaran emas fisik maupun berjangka menguat dipicu guncangan moneter global. Para pelaku pasar yag panik akibat perlambatan ekonomi dan devaluasi mata uang Tiongkok, gejolak politik dan perubahan moneter di beberapa negara Asia, mendorong mereka mengamankan dana mereka ke emas yang dianggap sebagai aset pelindung nilai (safe haven). Selain itu, pernyataan Bank Sentral Amerika (The Federal Reserve AS) tentang penundaan penaikan suku bunga turut memberikan angin segar bagi laju pasaran logam mulia tersebut.
Sebagaimana dikutip dari pasar London kitco.com, Minggu (23/8), harga emas mencapai 1.161 per ounce, naik dari harga sebulan lalu $1.000,00 per ounce. Harga emas murni (LM) 99,99% di Pasar Sentral Kota Medan mencapai Rp.518ribu per gram, meningkat dari harga sebulan lalu Rp. Rp483 ribu. Demikian pula harga emas lokal 97,00% per gram berkisar Rp500 ribu, naik dari Rp 480 ribu, pasaran sebulan lalu.

Dikutip dari Reuters, para analis dari industri terkemuka dalam sebuah konferensi meyakini harga emas bisa naik $1.200 per ounce dalam beberapa bulan ke depan karena kekhawatiran akan peran mata uang setelah devaluasi yuan membuat pasar ekuitas bergejolak, meningkatkan daya belie mas fisik dan ETF.
“Setelah devaluasi mata uang Tiongkok, orang-orang pada cemas. Mereka takut perang mata uang sehingga mereka akan kembali ke emas,” jelas Kepala India bullion di ScotiaMocatta. Harga dapat menembus ke $ 1.230- $ 1.240 per ounce dalam waktu satu bulan, katanya di sela-sela International Gold Convention di Kota Panaji di Goa state barat.




Analis Fawad Razaqzada di Gain Capital mengatakan logam mulia mendapatkan kembali statusnya sebagai aset pelindung utama di tengah amblasnya pasar ekuitas selama beberapa hari terakhir, dengan indeks AS dan Eropa ikut bergejolak dengan pasar Tiongkok.
Analis Jeffrey Rhodes, pendiri perusahaan konsultasi logam mulia RPMC di Dubai mengatakan ada ruang bagi penguatan dolar dan emas. Permintaan kemungkinan akan lebih tinggi di negara-negara seperti India, Tiongkok, dan Yunani, mengingat mata uang mereka terdepresiasi. Penguatan emas menjadi sebuah alternatif bagi mata uang pasar negara berkembang. (ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.