Saham, Pilihan Investasi Jangka Panjang

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Apa keuntungan investasi di pasar saham? Pertanyaan ini kerap muncul ketika seseorang mendengar kata saham. Pertanyaan lain adalah kekhawatiran risiko investasi saham. Pemegang saham perusahaan memiliki hak atas keuntungan perusahaan, dan juga harus siap menanggung kerugian perusahaan.

Makanya, ketika memilih saham, investor harus mengetahui karakteristik perusahaan yang sahamnya hendak dibeli, kinerja perusahaan, perkembangan industri, dan bagaimana pengaruh kondisi makro ekonomi terhadap industri dan perusahaan tersebut. Dengan memahami hal-hal tadi, calon pemodal akan mengetahui risiko rugi yang ada serta potensi keuntungannya. Apabila perusahaan memperoleh untung, maka investor memiliki peluang mendapatkan dividen atau bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan dari laba bersih tahunan. Besarnya dividen tergantung kesepakatan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).




Namun, apabila saham tersebut dicatat di Bursa Efek Indonesia, maka potensi keuntungan tidak hanya berasal dari dividen saja, melainkan juga dari capital gain. Begitu pun risiko kerugian, tidak hanya berasal dari penurunan kinerja perusahaan, tetapi juga dari turunnya harga saham (capital loss). Meskipun demikian, biasanya perkembangan kinerja perusahaan akan terefleksi dari harga saham perusahaan tersebut. Jika kinerja keuangan perusahaan yang tercatat di bursa (disebut juga dengan Emiten) bagus, otomatis akan mendongkrak harga saham, begitu juga sebaliknya.

Capital gain merupakan keuntungan dari selisih harga beli saham dan harga jual saham. Jika investor A membeli saham emiten XY seharga Rp500, dan pada tahun berikutnya menjual saham XY dengan harga Rp700, berarti capital gain yang diperoleh Rp200 per lembar saham. Sebaliknya, capital loss adalah apabila harga jual saham lebih rendah dibanding harga beli saham.

Banyak faktor yang menyebabkan naik dan turunnya harga saham, selain kinerja ada pula faktor sentimen pasar. Jika ada isu yang kurang baik, misalnya ketidakpastian pemimpin baru di suatu negara, investor umumnya akan menjual saham, sehingga harga saham akan turun karena prinsip supply dan demand. Sebaliknya, jika ada optimisme atas kebijakan baru contohnya, investor akan membeli saham karena percaya bahwa kinerja perusahaan akan membaik ke depannya sehingga membuat harga saham akan naik.

Pasar modal selalu mengalami siklus naik dan turun, sesuai dengan siklus ekonomi. Hal ini berarti, ada periode pasar saham mengalami sentimen positif ditopang membaiknya kinerja emiten yang terlihat dari peningkatan indeks harga saham gabungan. Di rentang waktu lainnya ketika pasar modal mengalami sentimen negatif, hal ini akan berdampak pada turunnya harga-harga saham dan terkoreksinya indeks harga saham gabungan (IHSG).




Namun, secara historis, dalam jangka panjang, investasi saham memberi keuntungan yang tinggi melebihi instrumen investasi lainnya. Meskipun demikian, tidak ada seorang pun pakar, investor maupun analis, yang mampu secara tepat memperkirakan kenaikan saham atau penurunan saham setiap tahun. Untuk mengurangi risiko, berinvestasilah dalam jangka panjang, sehingga investor melewati siklus kenaikan dan penurunan harga saham. Jangka panjang berkisar antara 5-10 tahun dan lebih panjang lagi. (Tim BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.