Neraca Perdagangan Sumut Surplus Naik 27,33% Juni

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | rupiah (Sumut) pada Juni surplus US$358,85 juta, naik 27,33 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai US$281,82 juta. Apabila dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, angka itu turun 7,66 persen yaitu dari US$388,62 juta pada Juni 2014 menjadi US$358,85 juta pada Juni 2015.

Sumut surplus terhadap lima mitra dagang utama di antaranya terhadap Amerika Serikat US$294,82 juta, India US$278,50, Jepang US$201,34 juta, Kamboja US$129,54 juta, dan Belanda US$128,79 juta. Sedangkan dengan mitra lainnya defisit yakni dengan Singapura mencapai US$292,82 juta, Malaysia US$125,10 juta, Argentina US$109,26 juta, Australia US$94,52 juta, dan Tiongkok US$12,85 juta.
Defisitnya neraca perdagangan Sumut ke lima negara dilatarbelakangi penurunan ekspor produk pertanian seperti karet, barang dari karet, lemak nabati, ikan dan udang, bubur kayu, dan produk pertanian lainnya.




Pengamat Ekonomi dari Unimed, Muhammad Ishak, mengemukakan, penyebab defisit di antaranya masalah kekurangan pasokan lokal atas kebutuhan industri-industri yang sedang beroperasi. Selain itu, kebutuhan terhadap industri pengolahan turut menjadi pemicu impor.

“Pemicu defisit itu lebih banyak dari aspek pertanian dan bahan-bahan pendukung industri pengolahan. Negara kita sering mengekspor produk pertanian mentah tanpa mengolahnya menjadi barang jadi. Saya pikir ini alasan utama yang membuat kita defisit khususnya dengan negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia,” jelasnya kepada Analisa, Selasa (18/8).

Salah satu strategi guna mengatasi defisit tersebut menurutnya, pemerintah daerah harus menciptkan kemudahan-kemudahan dalam mobilitas produk tersebut. Untuk jangka panjang, pemerintahnya semestinya mampu menciptakan peluang untuk penguatan  komoditi-komoditi pendukung industri pengolahan.

Ia menilai ke depan, neraca perdagangan masih mungkin surplus namun lebih dikarenakan penguatan dolar AS bukan karena peningkatan volume produk yang diekspor. Jika kondisi ekonomi lokal secara makro membaik, maka Sumut harus lebih fokus pada pasar lokal serta potensi lokal guna menyuplai industri pengolahan dalam provinsi.




“Secara keseluruhan, neraca perdagangan kita ke depan masih tetap sama yaitu mengalami surplus. Tetapi kesurplusan itu mestinya jangan dikarenakan adamnya keinaikan dollar, tapi lebih pada kenaikan volume produk yang dibuang ke luar negeri. Namun, jika kondisi ekonomi lokal secara makro membaik, maka kita harus lebih fokus pada pasar lokal serta potensi lokal untuk penyuplai industri pengolahan kita. Ini kebiajakn ekonomi yang harus terbangun dari sabang hingga maroke. Jika tidak, maka kita akan menjadi pengimport dan jika pengekspor, hanya komoditi-komoditi yang relatif kurang berguna untuk mendukung industri pengolahan kita,” paparnya.(ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.