Sejarah Tunjukkan Sekarang Waktunya Jual Dolar AS

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




top-dollar
Medan, Jelasberita.com
Sejarah membuktikan sekarang waktunya untuk menjual dolar AS, ungkap komentar para
pengamat yang dikutip melalui Bloomberg. Dolar AS telah melonjak rata-rata hampir 9 persen selama enam hingga sembilan bulan sebelum penaikan suku bunga pada tiga siklus penaikan rate masa silam. Setelah penaikan Fed rate, dolar merosot tajam, dengan rata-rata penurunan selama enam bulan rata-rata sekitar 6 persen.
Kondisi penaikan dolar yang diancang-ancang Federal Reserve AS tidak lepas dari sejarah. Pola tersebut kemungkinan akan terulang kembali. Nilai tukar dolar terhadap mata uang lain kemungkinan akan merosot 6 persen setelah Fed menaikkan rate.
Penasehat Investasi sekaligus Pengamat Ekonomi, Darmin SE, MBA, Senin (17/8) mengatakan meskipun mata uang lain ada potensi penguatan 6 persen usai Fed mengetatkan kebijakan moneter tapi kondisi rupiah belum tentu sama. Dalam jangka pendek ini mata uang emerging market seperti rupiah dan ringgit masih tertekan.
“Mata uang lain ada potensi menguat 6 persen tapi rupiah belum tentu sama. Pergerakan rupiah akan berbeda dengan mata uang lain. Di RAPBN 2016 kurs rupiah dipatok 13.400, itu masih perkiraan. Tahun ini, The Fed berencana untuk meningkatkan suku bunga pertama kalinya dalam hampir satu dekade,” paparnya.
Sebagaimana dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), selama 2009 hingga 2015, rata-rata pergerakan dolar terhadap rupiah mengalami fluktuasi, khususnya dari 2014 ke 2015. Berikut datanya 9490, 8959, 9228, 9832, 9875, 11690, 13,327. The Fed atau Bank Sentral AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga akhir tahun ini dan paling cepat bulan depan. Para pelaku pasar tampak berbondong-bondong memburu dolar AS tanpa mempertimbangkan dengan cermat risiko yang akan terjadi.
The Bloomberg Spot Dollar Index, yang melacak pergerakan mata uang AS versus 10 mata uang utama, naik 6,8 persen tahun ini. Menurut survei Bloomberg terhadap para analis, mata uang ini diperkirakan menguat ke $1,06 per euro dan 125 yen pada akhir tahun.
Bank-bank sentral menaikkan rate rata-rata 2,25 persen selama tahun pertama dari pola kenaikan Fed rate pertama. Kali ini, para pembuat kebijakan menargetkan rate Fed naik hanya 1,625 persen pada akhir 2006. Para pembuat kebijakan Fed menggunakan frase rate akan “merangkak”, “bertahap”, dan “naik perlahan” guna mengatur lajunya. Diprediksi, devaluasi mata uang Tiongkok, yuan, pekan ini mungkin dapat memperlambat laju penaikan Fed rate lebih lanjut.
Itu artinya penurunan dolar akan lebih terasa saat ini mengingat para pejabat Fed berencana untuk menghindari pengetatan agresif pada siklus 1994, 1999, dan 2004. Pertumbuhan ekonomi AS tidak merata dan inflasi tetap di bawah target Fed 2 persen di tengah melambatnya pertumbuhan global dan anjloknya harga komoditas.
Bias Pelemahan
Kejatuhan dolar 9,3 persen dalam enam bulan usai kenaikan rate pertama 2004, bahkan saat Fed melakukan pengetatan moneter lain 100 basis poin, menurut Intercontinental Exchange Inc US Dollar Index, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama. Pola yang sama berlaku pada 1994, saat indikator merosot 6,9 persen, dan pada 1999 saat dolar turun 1 persen.
Namun, latar belakang kemungkinan penaikan suku bunga terlihat berbeda kali ini, ungkap Kepala Adam Cole, ahli strategi valuta asing global di Royal Bank of Canada. Semua siklus pengetatan berbeda dan reaksi pasar tergantung pada mengapa Fed menaikkan suku bunga, serta konteks global, tulisnya dalam sebuah catatan pada 7 Agustus. (rls/ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.