Kini Momennya Berinvestasi kendati Ekonomi Lesu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Kini Momenya Berinvestasi kendati Ekonomi Lesu

Medan, Jelasberita.com | Keadaan ekonomi berbagai negara, khususnya Indonesia saat ini tengah lesu. Meski demikian, kinilah waktunya untuk berinvestasi, ucap Penasehat Investasi Panin Sekuritas, Darmin SE, MBA, dalam seminar “The Power now of Investing” di Balai Rasa Sayang, Sabtu (8/8). Ia mendasarkan keyakinan bahwa kini saat yang tepat untuk berinvestasi mengingat sejumlah harga saham belakangan turun. Apalagi menurut prediksi berbagai pihak IHSG dapat turun menembus 4.500.




Mengutip pengalaman investor terkaya yang paling ahli di dunia, Warren Buffet, ia berkata, “Belilah saham perusahaan yang Anda anggap memiliki prospek. Tidak peduli saham itu nilainya turun, indeks anjlok, selama Anda yakin pada prospek perusahaan tersebut. Jika kamu membelinya selama itu, kamu tidak membelinya di harga paling rendah dan juga tidak menjualnya di harga paling mahal”.
Warren Buffet menjalankan apa yang ia kemukakan. Setelah membeli saham, dan yakin pada prospek perusahaan tersebut, Warren Buffet tidak tergesa menjual saham tersebut. Ia menahannya sebagai investasi jangka panjang. Sebagai contoh iaa membeli saham Coca-Cola dan tidak pernah menjualnya, walau saham Coca-Cola sempat jatuh pada tahun 1998-1999, ia tetap melihat pada tren jangka panjang dan tetap mempertahankan saham Coca-Cola hingga saat ini.

Alasan lain mengapa saat ini adalah waktu yang tepat untuk berinvestasi adalah tingginya keuntungan pasar saham Indonesia dibandingkan pasar negara lain. Kurun 15 tahun terakhir pasar modal Indonesia terbukti memberikan keuntungan paling menjanjikan di dunia yakni 721,37 persen, India 428,30 persen, dan Rusia 358,89 persen. Ia juga menyinggung alasan inflasi, pertambahan usia, dan perubahan ekonomi lainnya, mengharuskan setiap individu mencari penghasilan pasif dengan memperkerjakan uangnya.

“Selama dua tahun terakhir, kurs rupiah telah merosot 34,25 persen, inflasi terus meningkat. Dengan uang Rp.100 ribu pada tahun 1998, Anda sudah bisa membeli kebutuhan keluarga selama sebulan. Pada 2005, nilainya menyusut, keranjang yang dulu terisi penuh berkurang setengah. Sekarang, dengan uang yang sama, Anda hanya bisa membeli sedikit barang,” paparnya menerangkan pentingnya untuk menginvestasikan uang ke pasar modal sebab uang akan bekerja mengimbangi inflasi.

Jangan pernah berpikir tunggu kaya kemudian berinvestasi. Namun, belajarlah sekarang menjadi investor agar kamu dapat menjadi kaya, ujar Darmin, mengutip pernyataan orang terkaya di dunia. Ia pun mengungkap fakta bahwa Warren Buffet tidak menginvestasikan dananya ke dalam emas sebab emas dipandang tidak menambah nilai uang.




“Orang kaya menyisihkan dananya untuk investasi dan memiliki tujuan investasi jangka panjang sehingga di masa tua ia dapat bebas secara finansial. Sebenarnya, berinvestasi untuk menghasilkan kekayaan lebih mudah daripaa menjalankan dan mengelola bisnis Anda sendiri,” ujarnya sebelum memaparkan historis dan keuntungan berinvestasi di Reksa Dana.

Para peserta seminar juga diberikan data tentang simulasi hasil investasi periode April 1997-Februari 2015 dengan hanya Rp 250.000 per bulan dan total cicilan investasi Rp53.750.000, apabila dicairkan saat ini hasilnya menjadi Rp 1.054.394.523,- memberikan keuntungan Rp 1 miliar, peserta juga dijelaskan bahwa hasil investasi masa lalu hanya merupakan indikasi investasi yang akan datang dan bukan suatu kepastian hasil yang sama sebab hasil masa depan bisa lebih besar maupun lebih kecil. (dyt)

Leave a Reply

Your email address will not be published.