Inflasi Medan 0,82% Juli, Pilkada Dinilai Jadi Faktor

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | Inflasi Kota Medan mencapai 0,8 persen pada Juli, masih lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi keseluruhan Sumatera Utara dan Nasional yang masing-masing mencapai 0,78 persen dan 0,93 persen. Akan tetapi, masih lebih tinggi bila dibandingkan Kota Pematang Siantar yang mencapai 0,06 persen, ungkap Kepala Bidang Statistik Distribusi Bismark Pardamean Sitinjak dalam pemaparan rilis data Badan Pusat Statistik Sumut di Aula BPS, Senin (3/8).

Peningkatan inflasi masih dominan dipicu kelompok bahan makanan, terutama cabai merah, dencis, tarif angkutan udara, sekolah dasar, sekolah menengah atas, kontrak rumah, dan daging sapi.
BPS Sumut mendapati kenaikan inflasi didorong peningkatan indeks kelompok bahan makan mencapai 1,76 persen, kelompok makananjadi, minuman, rokok dan tembakau 0,66 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,34 persen, kelompok kesehatan 0,79 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga 1,60 persen, kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,57 persen, sedangkan kelompok sandang mengalami penurunan indeks 0,75 persen.




Dari 23 kota IHK di Pulau Sumatera, 22 kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 3,18 persen dengan IHK 121,65 dan inflasi terendah terjadi di Pematangsiantar sebesar 0,06 persen dengan IHK 123,59. Sedangkan satu-satunya kota yang mengalami deflasi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 0,48 dengan IHK 125,30.

Di Indonesia, pada bulan Juli 2015 dari 82 kota yang diamati Indeks Harga Konsumennya (IHK), 80 kota mengalami inflasi, dimana inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 3,18 persen dengan IHK 121,65 dan inflasi terendah terjadi di Pematangsiantar sebesar 0,06 persen dengan IHK 123,59. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 0,65 persen dengan IHK 122,44 dan inflasi terendah terjadi di Tanjung Pandan sebesar 0,48 persen dengan IHK 125,30. Sementara itu, secara nasional pada bulan Juli terjadi inflasi sebesar 0,93 persen dengan IHK 121,26.

Pengamat Ekonomi Muhammad Ishak menjelaskan, kontribusi sektor pertanian atau kelompok bahan makanan yang dominan terhadap inflasi di Kota Medan disebabkan kurangnya perhatian pemerintah Kota Medan dan Sumut terhadap pertanian dan pangan. Di beberapa daerah di tempat lain katanya, pangan tidak lagi menjadi kontributor utama inflasi sebab pemerintahnya berupaya menangani masalah pangan dengan menggalakkan pertanian atau terpaksa mengendalikannya dengan impor.

“Saya pikir salah satu masalahnya itu terletak pada dana APBD untuk irigasi. Dana ini berpengaruh sekali terhadap aktivitas pertanian para petani. Apakah masalah ini sengaja dibiarkan saja atau ada maksud lain, saya pun kurang mendalaminya,” ungkapnya merujuk masalah pertanian Sumut.
Pilkada Jadi Faktor




Ia menambahkan, pada bulan ke depannya, kondisi yang akan memengaruhi inflasi yakni pemilihan kepala daerah (Pilkada). Ia memperkirakan sektor perdagangan termasuk yang menyangkut dengan makanan dan sektor jasa, akan memicu inflasi pada bulan ini dan mendatang. Sirkulasi uang juga akan meningkat, yang turut memengaruhi inflasi.

“Yang paling memengaruhi inflasi ke depannya sektor perdagangan dan jasa. Tapi, ini hanya akan terjadi di Kota Medan. Saya pikir sektor pertanian tidak lagi memiliki andil kuat terhadap inflasi, apalagi di kota maupun kabupaten lainnya di Sumut, sektor pertanian dan distribusinya kemungkinan membaik,” terangnya. (ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.