Alam Tidak Membunuhmu

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Oleh Riduan Situmorang

Manusia sebagai mahluk tertinggi yang diberi Allah kepercayaan untuk memimpin alam seringkali kalang kabut memahami alam. Alam diterjemahkan tidak sekadar objek kekuasaan, tetapi musuh yang harus ditaklukkan. Walhasil, cara pandang manusia terhadap alam kerap lebih pada eksploitasi ketimbang eksplorasi. Manusia menempatkan diri sebagai penjajah, pembunuh, penguasa, bukan pengayom. Dengan fungsinya itu, alam menjadi objek penderita dan tertuduh. Asal saja ada kecelakaan, manusia membacanya sebagai kejahatan alam.




Akhirnya dalam pikiran manusia, selain musuh, alam dituduh sebagai momok pembunuh. Asal ada banjir, gempa, atau apa pun, manusia mengatakan kalau-kalau alam sedang marah. Terus terang, saya tak habis pikir darimana logikanya mengapa alam dituduh sebagai pembunuh. Apakah alam memang membunuh? Lebih jauh, apakah Allah menciptakan alam menjadi musuh dan pembunuh manusia?

Lambang Karunia Allah

Rasanya dan itu benar sekali, tak ada deskripsi di Kitab Suci agama apa pun yang mengatakan bahwa alam adalah pembunuh manusia. Yang ada, Allah justru berpesan agar kita berkuasa atas alam. Dengan kata lain, Allah meneguhkan bahwa dengan alamlah kita dapat hidup. Dengan alamlah Allah hadir menafkahi mahluk-mahluk ciptaan-Nya. Artinya, alam merupakan sahabat manusia, bukan pembunuh. Alam merupakan lambang karunia Allah. Tanpa alam, manusia sama sekali tak akan pernah mampu bertahan hidup.

Baiklah, saya tidak  bermaksud memojokkan manusia di sini. Hanya ini penting ditanyakan, sebagai mahluk paling mulia yang tahu mana yang baik dan benar, apa yang sejauh ini telah dilakukan manusia terhadap alam? Sebagai mahluk berakal pula, sejauh apa akal itu telah difungsikan untuk membaca alam? Dan pada manusia itu sendiri, sejauh mana manusia yang dipilih menjadi pengayom—dalam hal ini pemerintah dan pejabat—menggunakan posisinya untuk merawat, membaca, dan “menjinakkan” alam?




Apakah, misalnya, warga tidak tahu atau bahkan tak pernah diberi tahu oleh mereka yang punya kapasitas dan pengetahuan memadai bahwa warga sedang tinggal “di mulut singa”? Inilah pertanyaan mendasar yang harus kita jawab. Logikanya begini, kalau kita tahu sedang berada di “mulut singa” dan kita tetap ngotot tinggal di sana, itu artinya kita sedang bunuh diri dan sama sekali itu bukan bencana.

Kalau kita tidak tahu dan sama sekali tak diberi tahu oleh pemerintah, itu artinya kita sedang coba dibunuh oleh mereka yang seharusnya punya kapasitas dan bertugas, bahkan digaji untuk itu. Arti sederhananya, kita sedang coba dibunuh oleh mereka yang kita hidupi melalui gaji. Dari situ jelas sekali bahwa alam memang bukan pembunuh.

Banyak alasan mengapa alam bukan sosok pembunuh. Di tempat lain, misalnya, yang tentu lebih peduli dan beradab karena itu lebih maju, seperti Jepang, sudah lama menganggap gempa sebagai masalah serius bangsa. Maka, mereka selalu bersikap antisipatif. Mereka bahkan sudah melakukan melebihi pertanyaan mendasar di atas tadi. Mereka tidak sekadar tahu dan benar-benar diberi tahu,  tetapi benar-benar sadar bahwa mereka sedang tinggal di “mulut singa” sehingga mereka bekerja ekstra untuk antisipatif, bersahabat, dan membujuk alam. Alih-alih merusak, mereka justru merawat dan membujuk alam.

Mereka melakukan mitigasi struktural dengan membuat bangunan antigempa atau fondasi yang kokoh. Mereka membuat sistem peringatan dini. Mereka melatih dan benar-benar terlatih untuk memahami dan membujuk alam. Bahkan, ada pembelajarann khusus bagaimana membujuk alam atau menghindar ketika gempa datang. Nyata sekali, mereka menghargai mahal nyawa setiap  masyarakat, termasuk menghargai alam.

Sekali lagi, alam tidak membunuh. Ketidaktahuan dan ketidakpedulian kitalah yang membuat kita terbunuh. Lebih tegas lagi, gempa, banjir, longsor, dan sebagainya pun bukan definisi bahwa alam sedang marah. Itu gejala alam. Benar-benar gejala alam. Tetapi, itulah kekurangajaran kita. Kita selalu menyebut alam sebagai sosok pemarah dan pendendam tanpa peduli bahwa selama ini kita telah menyiksanya.

Sialnya, semua peristiwa gejala alam tadi sering kita sebut sebagai bencana. Entah darimana asal dan alasan mengapa itu disebut sebagai bencana. Kita tak sadar-sadar bahwa dengan penyebutan itu sudah secara tak langsung kita menyampaikan kekesalan atau bahkan kemarahan kepada alam seakan-akan alam menjadi dalang dari setiap kematian? Pantaskah kita kesal dan marah pada alam?

Coba ini ditanyakan: bukankah semua peristiwa gejala alam itu merupakan proses fisika kimia biasa sebagai bentuk upaya mencapai keseimbangan baru? Hal itu sama saja dengan penguapan, pemuaian, pencairan, dan sebagainya sebagai peristiwa fisika dan kimia, tetapi kok tega-teganya kita secara sepihak menyebutnya sebagai bencana? Menyebutnya pula sebagai sosok pembunuh?

Alam itu Lembut

Sama halnya dengan gravitasi. Ketika apel jatuh karena lepas dari tangkainya, apakah kita mempersalahkan alam dan menyebutnya sebagai bencana? Tetapi mengapa kita menyebutnya sebagai bencana ketika sesorang karena keusilannya terlepas dari pegangan dan terjatuh sebagai bencana? Bukankah itu gejala alam?

Lagi-lagi ini harus dipahamkan, alam tidak jahat, apalagi membunuh. Alam tidak menghendaki kematian bagi penghuninya. Sebaliknya, alam selalu berupaya memperbaiki dirinya dan mencapai keseimbangan baru demi kenyamanan manusia. Itulah yang tak kita pahami. Kita hanya tahu cari perkara saja. Contohnya, alam akan bergeser ketika tanahnya mulai labil lantaran tak terikat kokoh oleh akar-akar kayu. Tahukah kita, mengapa itu longsor? Karena ulah kita menebangi pohon. Alih-alih alam, kitalah yang menabung bencana itu sendiri dan alam bekerja mencari keseimbangan baru.

Karena itulah, saya paling kesal ketika orang sibuk berdoa, meratap. Paling kesal lagi ketika pemerintah datang dengan sabda melawan, menanggulangi, mengatasi, dan mengevakuasi. Alam tak perlu dilawan, ditanggulangi, diatasi, dan dievakuasi. Alam hanya perlu diselarasi dan dipahami. Senada dengan itu, saya juga prihatin ketika ada peristiwa pengungsian. Yang saya prihatinkan ketika ada pemahaman dari kita bahwa pengungsian itu merupakan aktivitas memindahkan manusia dari tempat dan waktunya yang kini direnggut alam. Apakah alam memang merenggutnya atau justru sebaliknya?

Di akhir kolom ini, apa pun alasan Anda, saya tetap mau menegaskan bahwa alam tidak membunuh. Alam penuh kelembutan. Alam bekerja keras mencari keseimbangan yang telah kita timpangkan. Kitalah yang bunuh diri atas segala ketidaktahuan dan ketidakpedulian kita. Dan, pemerintah sedikit banyak bertanggung jawab atas ini. Maka itu, perlu upaya bersama untuk memahami dan mengenali alam. Kenali kapan dia akan bekerja menyeimbangkan diri.

Jangan ada lagi euforia yang membuat kita terbunuh seperti yang terjadi di Aceh di mana nelayan dengan gembira menangkapi ikan yang tergelepar. Mereka tak tahu—apalagi belum ada peringatan dari pemerintah—bahwa alam sedang bekerja memperbaiki dirinya untuk kenyamanan manusia. Dan, sangat disesalkan apabila hal yang sama terjadi—apalagi kalau pemerintah di tengah kemajuan teknologi—tetap tak mampu mengenali kapan alam sedang memperbaiki dirinya. Karena itu, kita “paksa” agar pemerintah bekerja memanfaatkan teknologi untuk memahami dan membujuk alam. Yang pasti, alam tidak pernah membunuh. Alam penuh kelemahlembutan!

Penulis Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan serta Pegiat Sastra dan Budaya di PLOt Medan

Leave a Reply

Your email address will not be published.