Asal Kamu Bertekad Kuat, Peluang Ditempatmu Masih Lebih Cerah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Oleh: Damayanti*
Sering sekali anak muda yang ku jumpai, khususnya yang sedang mencari kerja, mengaku mereka merantau ke kota Medan untuk mencari kerja. Memang, beberapa dari mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu. Akan tetapi, tidak sedikit dari mereka adalah anak tuan takur. Beberapa malah memilih untuk bekerja ke luar negeri seperti Malaysia, dengan modal sampai berpuluhan juta demi mencari pekerjaan lebih baik di negeri orang dan meninggalkan sanak saudara.

Sebut saja salah satunya, Rina Zendrato, wanita kelahiran dan besar di Nias. Ia adalah anak pertama dari kelima bersaudara. Karena merasa bertanggung jawab sebagai anak yang sulung di keluarganya, ia memilih untuk merantau ke Medan, bekerja sebagai pelayan kebersihan atau biasa dikenal cleaning service dengan gaji berkisar Rp.1,5 juta.




Padahal¬łuntuk biaya kosnya saja sudah kena Rp.400 ribu, ongkos pulang pergi Rp.300 ribu, uang makan Rp. 800 ribu. Gaji segitu hanya pas-pasan, tidak ada yang bisa ditabung. Malah, kadang kala ia harus melakukan berbagai upaya untuk berhemat sebisa mungkin.

Selidik punya selidik, ternyata si Rina ini adalah anak tuan takur, hanya saja ia tak paham dan tak pernah diajarin ayahnya untuk mengelola tanah. Katanya di kampungnya ia punya banyak pohon durian, sawit, karet, coklat, dan tanaman lainnya.

Jika saja ia mampu dan bertekad kuat untuk mengurusi bisnis dan lahan ayahnya, ia bahkan bisa jadi sangat makmur. Ia tak perlu tinggal jauh dari keluarganya, bisa menikmati hasil bumi Nias yang penuh limpah dan semua makanan segar secara cuma-cuma. Tidak seperti di Medan, yang sana-sini harus dibeli dan dihemat sehemat mungkin.

Ini gambaran dari seorang anak suku Nias yang memilih merantau ke Kota Medan. Ada lagi cerita dari seorang ibu rumah tangga yang memilih meninggalkan desanya menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia. Memang, gajinya lumayan. Tapi, tiap tahun ia harus mencicil biaya pengurusan izin menjadi PRT selama dua tahun. Bila dihitung-hitung, ternyata gaji yang ia peroleh tidak terlalu tinggi dibandingkan banyak hal yang ia tinggalkan.




Ia harus meninggalkan keluarganya, terutama anak-anaknya. Ia harus menghadapi berbagai tantangan seperti kesulitan dalam menghadapi majikan, dan harus beradaptasi dengan kondisi yang baru serta banyak lagi. Barangkali ia lupa tujuan hidup ini pada saat memilih menjadi PRT di negeri orang, dan sekarang menyesalinya.

Bagi kamu, khususnya anak muda, yang sedang berpikir untuk bekerja ke luar kota atau ke luar negeri, pertimbangkanlah secara matang. Apakah dengan pindah dan bekerja di sana, kehidupanmu akan lebih baik. Jangan hanya mengutamakan materi, pertimbangkanlah kebutuhan emosimu seperti bersosialisasi dengan keluarga dan sahabat-sahabatmu. Pertimbangkan juga bahaya dan kesulitan yang akan kamu hadapin ke depannya.

Tempatmu bisa saja menawarkan hal yang lebih menjanjikan, asalkan kamu bertekad kuat dan ligat mencari peluang. Jangan memilih pekerjaan hanya karena gengsi tapi pilihlah yang sesuai dengan bakatmu. Bila perlu, jadilah pengusaha yang bisa menciptakan peluang dan manfaat bagi banyak orang!

*Damayanti adalah jurnalis Harian Analisa membidangi Ekonomi dan Keuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.