Neraca Perdagangan Diperkirakan Surplus USD480 juta Juli

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | Surplus neraca perdagangan Juni diperkirakan akan mencapai USD480 juta pada Juli dengan ekspor meningkat 5,9 persen secara bulanan (mom) namun turun 12,8 persen secara tahunan (yoy), dan impor naik 11,6 persen secara bulanan tapi turun 17,4 persen secara tahunan. Demikian prediksi dari Tim Riset Panin Sekuritas, Kamis (23/7).

Pencapaian tersebut sejalan dengan konsensus tetapi di bawah prediksi sebelumnya, yakni surplus mencapai USD690 juta dengan ekspor turun 14,7% yoy dan impor turun 20,7% yoy. Meskipun demikian, surplus bulan Juni lebih berkualitas, terlihat dari adanya peningkatan ekspor dan impor, menandakan adanya peningkatan permintaan domestik dan peningkatan aktivitas investasi, ungkap Tim Riset.




“Prediksi kami sebelumnya didasarkan pada asumsi peningkatan ekspor dan impor pada bulan Juni seiring adaya bulan puasa dan libur Lebaran, serta peningkatan kegiatan pembangunan infrastruktur. Peningkatan ekspor Juni bersumber terutama dari peningkatan ekspor nonmigas dengan kontribusi terbesar datang dari pakaian, minyak kelapa sawit, dan karet. sedangkan impor Juni meningkat dengan kontribusi bahan baku naik 12,1% mom, barang konsumsi naik 8,9% mom, serta barang modal meningkat 11% mom,” ulas Darmin, Penasehat Investasi yang juga Pengamat Ekonomi dari Panin Sekuritas.

Surplus neraca perdangan ini menjadi surplus bulan ke-6 selama 2015. Ini akan memperbaiki kinerja defisit transaksi berjalan domestik pada kuartal II-2015 menjadi pada level 2,5% dari PDB dengan total surplus neraca perdagangan USD4,35 miliar. Pihaknya masih mempertahankan asumsi perbaikan defisit transaksi berjalan 2015 menjadi 2,7% dari PDB dengan adanya potensi ketidakpastian global.
BI rate diekspektasikan bertahan pada 7,5%. Walaupun level inflasi terkendali dan defisit transaksi berjalan menunjukkan perbaikan per Juni 2015 ini, pihaknya percaya bahwa Bank Indonesia masih fokus mengimplementasikan kebijakan moneter ketat ditengah gejolak pasar keuangan global dan fluktuasi rupiah.

Ancaman perlambatan perekonomian China kembali mencuat seiring pelemahan data perdagangan China dan anjloknya bursa saham China. Gubernur The Federal Reserve, Janet Yellen, menegaskan pada Jumat (10/7) bahwa The Fed kemungkinan mulai menaikkan Fed rate sebelum akhir 2015, sehingga normalisasi rate global akan meningkatkan tren suku bunga seiring peningkatan global borrowing cost. (ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.