IHSG Terkoreksi -2,49% wow  Akibat Isu Tiongkok dan Yunani

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | IHSG terkoreksi -2,49% wow atau -7,04% ytd ditutup pada 4.859,03. IHSG tertekan oleh issue ketidakpastian global terutama yang datang dari Tiongkok dan Yunani. Yunani menghadapi krisis kepercayaan dari Negara zona Euro. Negara zona euro ragu untuk mengucurkan dana talangan baru yang diminta perdana menteri Alexis Tsipras setelah 5 bulan berdebat sengit mengenai rencana reformasi ekonomi yang harus dijalankan oleh pemerintahannya. Presiden Prancis, Francois Hollande, mengatkan negaranya akan melakukan apa pun untuk melakukan apapun untuk mempertahankan Yunani di zona euro. Jerman menginginkan Yunani keluar sementara dari blok 18 negara tersebut. Jerman sangat menuntut disiplin fiskal, sedangkan Finlandia dilaporkan menolak mentah-mentah program penyelamatan baru Yunani, ungkap Tim Riset Panin kepada Jelasberita.com, Selasa (14/7).

Gubernur The Federal Reserve, Janet Yellen, menegaskan pada Jumat (10/7) bahwa The Fed kemungkinan mulai menaikkan Fed rate sebelum akhir 2015. Walaupun begitu, bank sentral akan tetap berhati-hati dengan alasan pasar tenaga kerja masih menunjukkan kelemahan. Kekhawatiran perlambatan ekonomi Tiongkok akan diperparah dengan adanya penurunan bursa keuangan Tiongkok. Pertumbuhan PDB Tiongkok diprediksi mengalami perlambatan lebih lanjut pada K2-2015.




Hal ini disampaikan oleh survei AFP, dengan menunjukkan perlambatan dalam investasi dan perdagangan berdampak pada laju perekonomian negara terbesar kedua di dunia tersebut. Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 diperkirakan 6,9% sedikit menurun dari kuartal I-2015 7,0% yoy. Prediksi tersebut menjadi angkat kuartalan terburuk pertama sejak kuartal I-2009 sebesar 6,6% yoy. Biro Nasional Statistik (NBS) Tiongkok dijadwalkan merilis angka resmi PDB kuartal II 2015 pada Rabu (15 Juli). Kemendag memprediksi ekspor Indonesia ke Tiongkok berpotensi menurun 8%-10% yoy sebagai efek tidak langsung dari anjloknya bursa saham Tiongkok. Ekspor Indonesia ke Tiongkok pada 2014 mencapai USD17,61 miliar.

Ekspor komoditas primer diprediksi terkena dampak yang cukup besar. Pemerintah akan menempuh strategi diversifikasi tujuan ekspor guna mengantisipasi penurunan ekspor di Tiongkok. Krisis Tiongkok mendongkrak yield pasar obligasi RI. Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPP) Kemkeu, Robert Pakpahan, mengatakan imbah hasil utang Indonesia terkena imbas tekanan eksternal yang datang dari Tiongkok. Kemarin (8/7) yield SUN naik 0,20%-0,35%. Kenaikan CDS dirasa pemerintah masih aman, namun harus berhati-hati. Credit default swap (CDS) Indonesia naik dari sejak awal tahun ini dikisaran 130 bps menjadi di kisaran 172 bps pada Juni 2015. Level ini masih lebih rendah dibandingkan pada level 2009 dan 2011.

Perkembangan data makroekonomi domestik belum menunjukkan peningkatan yang signifikan sehingga investor masih menghargai IHSG pada PE Band 18,0x. Presiden Jokowi yakin dengan stimulus yang diberikan pemerintah dapat menambah pertumbuhan ekonomi 0,1%-0,3% pada 2015 dan 0,5%-1% pada 2016. Presiden Jokowi mengatakan perlambatan ekonomi tak bisa dielakkan karena menjadi konsekuensi pahit masa transisi.

Namun, Presiden berjanji akan membongkar (overhaul) dan mengubah total mesin ekonomi dari berbasis komoditas sentris menjadi berbasis manufaktur. Neraca perdagangan Juni diperkirakan surplus kembali, meskipun surplusnya lebih rendah dari bulan sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya kenaikan kinerja impor yang lebih tajam dibandingkan dengan ekspor. Menkeu, Bambang Brodjonegoro, optimistis surplus pada neraca perdagangan Juni.




Akan tetapi, belum menyebutkan berapa besar angka surplus tersebut.Pasar lebih mengharapkan Surplus yang berkualitas. Artinya surplus yang dihasilkan dari kenaikan ekspor dan impor. Bank Dunia memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2015 menjadi 4,7% dari proyeksi Maret 5,2%.

Menurut Bank Dunia, ekonomi Indonesia masih dalam level maju perlahan dan positif. Untuk itu, komitmen implementasi kebijakan pemerintah memperkuat makro ekonomi menjadi tumpuan besar. Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan 2015 akan mencapai 2,7% dari PDB. Penurunan ini terjadi karena adanya perlambatan impor seiring permintaan domestik yang melemah. BI memperkirakan inflasi Juli 2015 bisa di bawah 7% yoy karena inflasi bulanan relatif terkendali. Hingga minggu pertama Juli menunjukkan kenaikan inflasi 0,46% momBank Indonesia diperkirakan masih akan menjalankan kebijakan moneter ketat. BI diekspektasikan akan mempertahankan BI rate di level 7,5% pada RDG BI bulanan yang digelar pada Selasa. (ti)

Leave a Reply

Your email address will not be published.