Puasa itu Pembiasaan

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




 

Oleh: Riduan Situmorang




Puasa itu adalah pembiasaan hal-hal yang baik. Mengapa harus berpuluh-puluh hari tentu hanya Tuhan yang tahu persis. Kita hanya bisa menduga. Supaya tulisan ini dirasa tidak memojokkan atau memuji sekelompok tertentu, baiklah ditegaskan bahwa pada hakikatnya semua agama mengajarkan puasa atau menahan diri. Hanya memang, yang paling menekankannya, atau setidaknya banyak disoroti sejauh ini adalah agama-agama Abrahamik: Yahudi, Kristen, terutama lagi Islam.

Mari kita duga, mengapa harus berpuluh-puluh hari! Nabi Isa Almasih sebelum melakukan masa kenabian-Nya terlebih dahulu Dia berpuasa total: selama 40 hari, siang dan malam. Mengapa Dia berpuasa sebelum masa kenabian? Sekali lagi, kita hanya menduga. Ini bukan menjadi kepastian, apalagi klaim!

Diperkirakan dan itu beralasan, Nabi Isa berpuasa sebelum menjalankan misi-Nya tak lain tak bukan adalah untuk membiasakan hal-hal yang baik. Fokusnya tentu bukan lagi semata bagaimana menghindari cobaan, melainkan bagaimana membiasakan melakukan hal yang baik. Ketika sudah terbiasa melakukan hal yang baik, tentu dia akan merasa risih untuk melakukan hal yang tidak baik.

Ujian Awal




Dan, dalam scope Nabi Isa, menjalankan puasa sebelum pengabdian dapat juga diartikan sebagai ujian awal, apakah Dia sudah siap menjalankan misi perdamaian atau belum. Jadi, puasa itu adalah “persiapan”. Ukurannya tidak lagi matematis pada kisaran 30-40 hari. Manakala seseorang yang berpuasa tak kunjung menyelesaikan “persiapannya” untuk melakukan hal yang baik, itu artinya bahwa dia sesungguhnya belum selesai berpuasa secara substantif. Kalaupun dipaksakan sudah selesai, paling banter itu hanya selesai untuk urusan ketetapan waktu. Padahal, puasa bukan masalah waktu.

Maka itulah, Mohamad Sobary menggelisahkan puasa kita dengan tulisannya “Puasa, Keadilan, dan Kejujuran” (Sindo, 18 Juni 2015). Kurang lebih pesan inti tulisannya adalah selama ini kita hanya berpuasa-puasaan saja. Maka, dia pun bertanya lagi secara berderet: mungkinkah kita salah? Kita berpuasa hanya sekadar berpuasa, dan hanya menderita haus dan lapar, lelah, dan mengantuk, tanpa mengubah sesuatu dalam hidup kita? Apa yang salah dalam puasa kita? Mengapa keadilan dan kejujuran tak mewarnai kehidupan kita?

Kalau boleh jujur, sebenarnya, masih banyak pertanyaan serupa yang bisa digulirkan seperti di atas. Dan inilah uniknya, saya yakin jawaban atas segala pertanyaan itu ada pada karena secara substantif kita tak pernah selesai, bahkan tak pernah “siap” untuk memulai puasa. Bagi kita puasa sekadar perayaan “tak makan, tak minum” saja. Padahal, puasa itu adalah “memberi makan dan minum” orang lain. Puasa tak bisa berhenti pada diri kita. Puasa pula tak bisa berhenti semata untuk tubuh, tetapi lebih jauh harus menyentuh hal rohaniah, humanis. Artinya, benih puasa itu harus melahirkan keadilan, kebahagiaan, keharmonisan, bukan kelaparan semata.

Seperti di awal tulisan ini, puasa adalah perihal pembiasaan hal-hal yang baik. Saya punya kutipan yang menarik tentang kebiasaan. Kata Aristoteles, Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Dengan demikian, kecemerlangan dan keunggulan bukan tindakan, melainkan kebiasaan”.

Yang sangat menarik dari pernyataan ini adalah bahwa apabila kita terbiasa melakukan kebaikan, maka kita akan menjadi penabur kebaikan itu sendiri. Agak melebar dan itu masih sangat logis, kalau kita memang benar-benar berpuasa dan membiasakan kebaikan satu sama lain—apalagi puasa adalah kegiatan berulang dan beruntun selama berpuluh-puluh hari—maka negeri ini adalah negeri kebaikan. Masalahnya, mengapa negeri ini setelah bertahun-tahun secara rutin berpuasa, tetapi justru perjalanan akhlaknya di situ-situ saja, bahkan ada kecenderungan makin keruh dengan adanya korupsi, radikalisme, kebencian, pembunuhan?

Apa yang salah dengan puasa kita? Apa ukuran matematis 30 hari masih tak cukup? Saya meyakini, angka ini sudah cukup. Ukuran 30 hari pastilah bukan ukuran asal tebak-tebak dan asal jadi. Ukuran itu pula bukanlah hukum yang tanpa dasar. Ada alasannya dan jelas tujuannya, meski sekali lagi kita hanya bisa menduga-duga. Apa alasannya?

Para ahli teori perubahan perilaku mengatakan bahwa diperlukan waktu yang berbeda-beda agar sebuah tindakan menjadi kebiasaan. Stephen Covey, misalnya, dalam bukunya yang terkenal, Seven Habits, mengatakan bahwa dengan 20 hari saja berproses, kita lama-lama akan menjadi terbiasa dengan proses itu. Charles Duhig dalam The Power of Habit-nya juga mengatakan dengan 21 hari.

Sama persis dengan angka puasa umat Muslim, Hal Elrod—Si Penulis Buku The Miracle Morning—mengatakan bahwa untuk membiasakan diri cukup dengan 30 hari. Dia memerincinya begini: sepuluh hari pertama merupakan masa-masa yang paling sulit, bahkan seakan mustahil untuk dijalani. Bayangkan, misalnya, seseorang yang terbiasa makan siangnya harus makan yang enak-enak, eh, tiba-tiba karena puasa, jangankan makan yang enak, yang tak enak pun tak bisa sama sekali. Terbayangkah bagaimana tersiksanya dia di minggu-minggu pertama? Melihat makanan tentu menjadi hal yang sangat menyiksa, bukan?

Sepuluh hari tahap kedua, lanjut Elrod, merupakan fase uncomfortable, belum nyaman, tetapi sudah terbiasa. Kalau dulu melihat makanan menjadi hal yang sangat menyiksa, setidaknya kini dia sudah bisa melihat meski harus diakui masih ngiler. Kalau tak puasa, pasti sudah dibabat. Bukan berarti dia tak bisa digoda lagi. Kalau saja kawannya yang ulang tahun yang katanya harus makan, dia kemungkinan masih akan tergoda. Soal dia bisa menolak memang sudah bisa, tapi belum nyaman. Masih perlu latihan dan pembiasaan-pembiasaan.

Mestinya Unstopable

Ini yang mengesankan: sepuluh hari terakhir merupakan fase unstoppable. Sudah tak bisa dihentikan lagi. Bahasa Aristoteles, kita sudah terbiasa dengan kebiasaan baru. Begitulah kemegahan otak dan tubuh kita. Otak dan tubuh kita selalu menyesuaikan ritmenya dengan kebiasaan kita. Namanya biorhythm. Artinya, asal saja kita benar-benar berpuasa, benar-benar melakukan hal yang baik, tidak semata untuk lapar dan haus-hausan, ukuran 30 hari itu sudah menjadi modal yang baik untuk meningkatkan adab bangsa ini.

Masalahnya, mengapa sejauh ini, sepertinya puasa kita sekadar menyaksikan orang lapar dan haus? Mengapa puasa kita hanya sekadar menonton gerak harga yang tiba-tiba melambung? Mengapa puasa kita hanya melahirkan “kekeringan”, dikatakan “kekeringan” karena setelah 30 hari, adab moral kita masih segitu-gitu saja? Apakah puasa kita mengambil setengah, yaitu sekadar pembiasaan saja dan belum menyentuh pada pembiasaan hal yang baik?

Kita tak tahu pasti apa masalahnya. Hanya, izinkan saya menutip Rangga Umara di sini, “Banyak orang yang mempertahankan kebiasaan-kebiasaan yang melemahkan dirinya sendiri hanya karena sudah terbiasa melakukannya.” Karena itulah pesan Rangga Umara sekali lagi, “Belajarlah untuk membentuk kebiasaan, bukan terbentuk oleh kebiasaan!” Puasalah adalah momentum untuk membentuk kebiasaan, tentu kebiasaan yang baik. Mungkin dengan itu, akhlak kita akan lebih baik. Bukankah puasa sesungguhnya adalah pembiasaan hal-hal baik?

Riduan SitumorangTentang Penulis

Nama               : Riduan Situmorang

Alamat:           : Jl. Sering No. 100 A Medan

Kegiatan          : Pendidik, Aktivis Sastra di PLOt, serta Penggagas Teater Z Medan

No. Rekening  : BNI 0249692678 (Atas nama Riduan Situmorang)

No. Hp.           : 085761434917

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.