Duka Angelina, Duka Bangsa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




 

Oleh : Riduan Situmorang




Marilah berdoa untuk Angelina! Semoga segala penderitaannya menjadi sebuah berkah meriah di surga. Semoga juga mereka, terutama keluarga yang masih menaruh rasa cinta dikuatkan. Bagaimana dengan keluarga yang sudah menelantarkannya? Ya, berdoa saja supaya mereka bisa dan mau bertobat dengan sepenuh hati. Tuhan selalu membuka diri atas pertobatan-pertobatan insan.

Marilah pula berduka pada tidak sekadar “matinya”(maaf, saya menggunakan kata mati di sini!) Angelina, tetapi justru lebih pada matinya akal sehat, rasa, empati, perhatian, dan semua tema-tema kekeluargaan yang dulu kita pelajari di PMP, PPKn, dan kini PKn. Bagaimana tidak, anak sekecil itu sudah dibiarkan menanggung derita yang orang dewasa saja tak sanggup menerimanya. Tak terpikirkan, bagaimana teganya keluarga di lingkaran Angelina yang memperlakukannya bagaikan binatang. Disiksa, diperbudak, diperkosa, bahkan belakangan kabarnya dibunuh secara keji. Makamnya pun berantakan. Tak tersentuhkah hati kita?

Saya tidak mau membenarkan diri sendiri, tetapi marilah pula mengkritik mengapa orang di sekitaran lingkaran Angelina bersikap acuh tak acuh. Yang membuat hati lebih getir, beberapa dari mereka pernah melihat gadis kecil itu diperbudak, disiksa. Beberapa orang juga pernah melihat luka lebam, memar. Beberapa orang melihat dan merasakan bagaimana tubuhnya begitu menyengat, bau! Belakangan, beberapa dari mereka menyesal. Bahkan, ketika ada anak yang mengaku melihat Angelina tersiksa kepada orang tuanya setelah kematiannya, orang tua tersebut mengaku pernah ingin mengadukan hal itu kepada yang berwajib.

Sudah Kering




Nyatanya, Angelina tewas. Tak ada yang tahu. Mereka hanya sibuk ketika mereka mengalami sesuatu yang tak biasa. Biasanya mereka terbiasa melihat gadis kecil yang menderita itu, tetapi kali ini sudah tak ada lagi. Sudah tak biasa, ada yang kurang! Mereka pun kecarian. Maka, dikabarkanlah Angelina hilang. Kita bertanya, apakah pencarian Angelina lebih pada mencari agar kembali melihat anak kecil menderita yang lalu kembali pada kebiasaan lama: menyaksikan anak kecil menderita? Atau, apakah ini murni untuk menolong? Kita tak tahu! Andai menolong, mengapa tidak dari dulu?

Ah, tak usah menggurui. Mereka yang kasihan juga punya alasan. Tak mungkin mencampuri urusan tetagga. Begitu kata mereka. Maka, walau terenyuh dan sedih, mereka melihat begitu saja tanpa bisa membantu. Menyaksikan dari jauh, mengutuki dari jauh! Tak baik mencampuri urusan tetangga, itulah mazhabnya. Sekilas itu benar, apalagi sudah menjadi kuyup di pikiran kita perintah imperatif: selesaikan dulu masalahmu, baru campuri masalah orang lain. Sabda-sabda religius yang kemudian bisa dipelintir lagi: titik di mata orang lain dapat terlihat sementara balok di matamu tak kunjung kau enyahkan!

Tetapi, begitukah seharusnya? Apakah niat membantu harus berhenti pada pernyataan tak mau mencampuri urusan tetangga? Saya tak tahu. Kalau harus dicari, izinkan saya menerka-nerka mengapa hal itu terjadi, yaitu karena akal sehat dan segenap nilai-nilai yang kita pelajari dulu sudah kering. Itu sama artinya bahwa kita hanya berusaha mencari pembenaran mengapa kita tak melakukan pertolongan sejak dulu.

Singkatnya, masyarakat sekitar tak terharapkan lagi. Lalu kalau sudah demikian, kepada siapa kita lantas berharap? Negara? Apa? Maksud saya, tidakkah itu terlalui ironis, sebenarnya bahkan sarkastis sebab negara sejauh ini hanyalah benda mati? Kalau tidak mati, di mana negara dengan segenap alat-alatnya? Di mana manifestasi sabda negara yang mengatakan dengan heroik bahwa orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara negara?

Sudahlah, itu hanya pepesan kosong. Negara sudah mati dan menjadi fosil. Segala cerita tentangnya hanyalah kenangan yang menyesakkan. Indah didengar, tetapi getir dirasakan. Buktinya, masih banyak anak-anak bangsa yang terlantar, bahkan di depan para punggawa negara itu sendiri. Mengapa tak kunjung mereka dipelihara kalau negara memang hidup?

Baiklah, baiklah, baiklah, saya hargai pendapat Anda yang tetap optimis—sebenarnya bermimpi dan itu terlalu idealis—mengatakan bahwa negara masih hidup, tetapi apakah negara menghidupi? Untuk kasus Angelina, masih syukur ketika kemudian polisi berhasil mencari mayatnya. Tetapi, apakah negara di sini sudah menghidupi? Atau apakah negara sebenarnya sudah cukup dan mencukupkan diri pada peran sebagai pencari dan pengubur mayat? Apa bedanya dengan anjing pelacak? Untuk itukah negara hadir?

Sudahlah, tak usah dipikirkan, maksud saya tak usah dijawab di sini. Sejenak, marilah kita tinggalkan narasi epos negara! Itu tak berguna, kecuali sekadar menambah kekesalan.

Apa itu Negara?

Yang pasti, kisah Angelina hanyalah sekelumit dari kisah anak-anak terlantar. Itu kalau bisa dikatakan masihlah pada tahap yang wajar. Wajarnya mengapa? Coba dikomparasikan dengan kisah seorang ibu yang membuang begitu saja anaknya ke tong sampah? Bagaimana lagi dengan kisah teranyar yang kita dengar, di mana orang tua yang sebenarnya kaya dan berkecukupan, tetapi malah menelantarkan anak-anaknya? Bagaimana dengan sesama anak yang saling menerkam seperti perundungan yang dilakukan anak SD di Bukit Tinggi Sumatera Barat?

Bagi Anda yang dari tadi tetap optimis pada negara coba ditanyakan pula: di mana negara atas berita tragedi itu? Apa yang salah dengan negeri ini? Atau, negara apa ini? Ketika negeri berbudi, memuliakan ahlak, menomorsatukan Tuhan, tetapi justru tak berahlak, tak berempati, itukah negara?

Sudah ada Komnas PA, tetapi apakah Komnas PA ada sekadar mencatat kekerasan? Apakah itu paralel dengan sudah ada KPK, tetapi KPK cukup bertugas sekadar mencatat siapa yang korupsi tanpa perlu dihukum sehingga dengan cara menggelikan dimenangkan di praperadilan? Lebih tajam lagi, apakah itu artinya dapat disamakan pula dengan sudah ada presiden, menteri, gubernur, polisi, jaksa, atau apalah itu, tetapi mereka sebatas mencatat keluhan tanpa mengajukan solusi? Apakah mereka sebatas pelengkap administrasi? Inikah negara? Inikah perilaku masyarakat bernegara, berbangsa, berbudaya, bahkan dengan kepala tegak mengaku bertuhan dan beragama? Kesekian kalinya: apa itu negara?

Maaf, pertanyaan bertubi-tubi di atas dilontarkan atas dasar kegalauan, bahkan emosional. Emosional karena kita lebih suka menyesal, lebih suka beretorika, lebih suka numpang eksis, bahkan di atas penderitaan orang lain. Kita selalu memancing di air keruh.

Maka, dengan kolom kecil ini, kalau kita masih dengan bangga menyebut negeri ini sebagai yang berbangsa, bernegara, berbudaya, dan sederet tetek bengek lainnya, kita tentu harus menerima dengan besar hati bahwa duka Angelina adalah tidak sekadar duka atas matinya seorang manusia. Duka Angelina juga adalah duka massal atas matinya akal budi, perasaan, hingga pada akhirnya mematikan negara dan segenap struktur atau perangkat-perangkatnya yang berjibun, tetapi nirfungsi.

Pertanyaan pamungkasnya untuk direnungkan: apakah kita berduka atas ini atau lagi-lagi ini hanyalah retorika dan bagian dari sandiwara karena kemunafikan kita sebagaimana diutarakan Mochtar Lubis? Jangan-jangan pula kita malah sudah menganggap kematian Angelina sebagai kisah biasa yang tak perlu dihebohkan, kecuali mau numpang eksis?

Riduan SitumorangTentang Penulis

Nama               : Riduan Situmorang

Alamat:           : Jl. Sering No. 100 A Medan

Kegiatan          : Pegiat Sastra di PLOt serta Penggagas “Teater Z” Medan

No. Rekening  : BNI 0249692678 (Atas nama Riduan Situmorang)

No. Hp.           : 085761434917

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.