Reksa Dana dan Unit Link

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Berbicara mengenai produk investasi, terkadang masyarakat kadang dibuat bingung. Ketika ditawarkan produk investasi pasar modal, ada yang menjawab sudah berinvestasi lewat perusahaan asuransi. Ditambah lagi para agen asuransi kerap menginformasikan mengenai keuntungan berasuransi sekaligus berinvestasi. Pertanyaannya, benarkah membeli asuransi juga berinvestasi?

Produk asuransi memang ada yang dipaketkan dengan instrumen investasi. Produk ini berbeda dengan asuransi tradisional yang hanya menjual polis proteksi. Asuransi modern mengembangkan produk bernama unit link. Cara kerjanya, secara sederhana, dari nilai premi yang dibayarkan nasabah atau pemegang polis, ada persentase tertentu yang dialokasikan untuk membeli produk investasi dan sebagian lagi dialokasikan untuk premi proteksi.




Dengan membeli unit link, jika nasabah tidak mengalami kematian misalnya, ia tetap akan memperoleh hasil dari premi yang disetorkan berupa hasil investasi unit link yang bisa diambil sewaktu-waktu. Berbeda dengan asuransi tradisional yang hanya bisa diambil uang pertanggungannya oleh ahli waris, ketika pemegang polis atau tertanggung meninggal dunia atau cacat.

Unit link mirip dengan reksa dana di pasar modal. Keduanya sama-sama diperjualbelikan dalam bentuk unit penyertaan. Perbedaannya, ketika investor membeli reksa dana maka semua uang yang dibelikan unit reksa dana akan dialokasikan untuk investasi. Contoh: Membeli Rp500.000 unit reksa dana akan mendapatkan unit reksa dana senilai Rp500.000. Tetapi bila membeli unit link senilai Rp500.000, di tahun pertama yang dialokasikan untuk investasi mungkin hanya sebesar 30%, atau Rp150.000. Selebihnya dialokasikan untuk premi proteksi. Semakin panjang jangka waktu investasi yang dipilih biasanya bobot investasinya akan semakin besar.

Alhasil, nilai investasi atau hasil investasi yang akan terkumpul dalam jangka panjang selama periode waktu yang sama, dan pada jenis investasi yang sama, bila dibandingkan di antara keduanya akan lebih besar reksa dana. Tetapi, karena reksa dana tidak ada unsur proteksi atau asuransi, maka ketika investor meninggal dunia misalnya, dia tidak akan mendapatkan uang pertanggungan seperti pada unit link. Investor reksa dana yang meninggal dunia hanya akan memperoleh hasil investasi yang diwariskan kepada ahli waris.

Apabila seseorang sudah cukup memiliki proteksi atau memiliki asuransi yang meng-cover risiko kematian atau cacat tetap, dia lebih baik membeli reksa dana untuk kebutuhan investasi. Sebaliknya, apabila seseorang sudah berinvestasi di reksa dana, dia tidak perlu lagi membeli unit link, tetapi membeli asuransi tradisional yang hanya memproteksi kematian atau cacat. Asuransi tradisional yang hanya memproteksi kematian jauh lebih murah dibanding produk asuransi yang digabungkan dengan investasi.




Jadi, berinvestasi reksa dana atau melalui unit link, tergantung pada kebutuhan masing-masing orang. Apabila ia ingin berinvestasi tetapi juga memerlukan proteksi, dia bisa membeli unit link. Tetapi jika tujuannya hanya untuk berinvestasi maka lebih baik memilih produk reksa dana. Sebelum memilih produk asuransi atau reksa dana, penting juga melakukan analisa atau financial checkup. Berapa besar dana proteksi yang sudah dimiliki dan apa tujuan investasi, sehingga bisa memilih produk investasi yang paling sesuai yang memberikan hasil investasi optimal, dan proteksi yang memadai.

Perbedaan lain dari kedua produk ini adalah lembaga yang menerbitkannya. Reksa dana diterbitkan dan dikelola oleh manajer investasi berdasarkan kontrak investasi kolektif (KIK) dengan bank kustodian. Sementara unit link diterbitkan dan dikelola oleh perusahaan asuransi. Persamaannya, kedua produk ini sama-sama berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (TIM BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.