Rindu Sekolah Pagi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Oleh Dedy Hutajulu

Relokasi sekolah di daerah bencana sesungguhnya sebuah urgensi. Sebab, keselamatan dan pemenuhan hak anak adalah dua hal utama yang harus dipastikan negara. Namun upaya pemenuhan hak tersebut ternyata masih sebatas wacana. 




 

belajar di tenda darurat
Zulfikri Anas, dari Pusat Perbukuan dan Kurikulum Kemdikbud sedang berbagi pengalaman dengan anak-anak SMA Negeri 1 Simpangempat karo di tenda SKB. Tenda ini diperuntukkan sebagai sekolah darurat selama Sinabung erupsi. Sayang tenda ini kini digulung karena tak ada yang merawat dan menggunakannya.

Dengan wajah gembira, Inez berlari menyapaku. Rambutnya yang panjang bergoyang dikibas angin gunung yang dingin. Gadis muda ini tumbuh makin dewasa. Kini ia sudah duduk di kelas tiga tingkat SMA. Siang itu, di awal Mei, ia nyaris menitikkan air mata saat melihatku. “Bang, ayolah kita mediasi lagi ke kantor dinas,” kata Hardiles.

“Kenapa?” tanyaku.

“Inez sedih sekali Bang. Ia ingin kita audiensi lagi. Ia mau menyampaikan kekesalannya ke Pak Saroha karena sampai sekarang enggak jelas juga kapan kami dapat sekolah baru,” sahut Hardiles.




Tentu yang dimaksudkannya adalah Pak Saroha Ginting, Kepala Dinas Pendidikan Karo, Provinsi Sumatera Utara. Dalam audiensi sebelumnya, Inez dan kawan-kawannya (belasan orang) menemui Saroha di kantornya. Pertemuan tersebut demi menyampaikan keluhan dan harapan mereka selama setahun lebih menumpang belajar di sekolah lain. Dan Saroha menjanjikan akan segera membantu persoalan tersebut.

Kini, sudah hampir setengah tahun sejak audiensi itu, namun belum juga ada kejelasan sikap dari Kepala Dinas Pendidikan Karo tentang relokasi baru sepasti dijanjikan Saroha. Padahal, kondisi Sinabung hingga kini masih berstatus awas dan masih rajin erupsi.

Sejak awal Desember 2013, hingga kini, sudah satu setengah tahun lebih Inez, dkk siswa SMA Negeri 1 Simpangempat, Sibintun, menumpang belajar di SMP Negeri 2 Simpangempat, yang berlokasi di desa Ndokum Siroga, Simpangempat. Telah berulangkali pula usulan relokasi disampaikan ke dinas pendidikan kabupaten Karo, bahkan langsung ke Pemkab Karo dan DPRD Karo. Namun ide itu selalu kandas di tengah jalan.

Upaya untuk mendapat izin relokasi juga telah disampaikan ke Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, namun hasilnya sama saja. Perhatian pemerintah terhadap sekolah yang terdampak erupsi Sinabung sangat rendah. Sayangnya, pemerintah dan pemangku kewajiban pendidikan masih gemar memberikan angin surga kepada anak didik, tanpa ada usaha yang jelas.

Tak pelak, Inez, siswa kelas tiga SMA Negeri Simpangempat mulai kesal. Ia ingin kembali mendatangi Kepala Dinas Pendidikan Karo, Saroha Ginting untuk meminta kembali agar dibangun sekolah baru. Kegeraman anak-anak SMA Negeri 1 Simpangempat memang sudah terasa sejak awal mereka diungsikan ke SMP Negeri 2 tersebut. Sejak kepindahan itu, muncul beragam konflik horizontal antara siswa dua sekolah tersebut.

Konflik ini bahkan sudah pernah disampaikan langsung ke  Saroha Ginting, namun ia hanya memberi petuah tanpa langkah konkret yang memutus akar perkara. Hingga akhirnya akar pahit berurat di hati anak-anak. Akar pahit ini retas menumbuhkan dendam yang jelas-jelas tidak kita inginkan. Maka sampai saat ini, anak-anak masih bertahan belajar di sekolah tumpangan dengan menikmati segala tetek-bengeknya.

Inez bersedih saat akan berpisah dengan KerLIP pada acara family gathering di Bukit Kubu, Berastagi, Karo
Inez bersedih saat akan berpisah dengan KerLIP pada acara family gathering di Bukit Kubu, Berastagi, Karo

Usulan pembangunan sekolah baru kembali diutarakan Haris Direktur SMA dari Kemendikbud, saat dihubungi via telepon seluler awal Mei lalu. Kata Haris, pemerintah pusat menyediakan dana untuk pembangunan sekolah baru (untuk relokasi) bagi daerah terdampak bencana. Besarannya, untuk SMA sekira Rp 1,3 sampai 1,4 miliar.

Namun, cara mencairkannya, terang Haris, pihak sekolah harus mengajukan proposal pembangunan sekolah baru. “Proposal harus disetujui dinas pendidikan dan pemkab setempat. Tapi dana baru cair jika Pemkab Karo bisa menunjukkan tanah bersertifikasi untuk lahan pembangunan sekolah baru itu. Gampang kok,” katanya.

Sinyal baik ini kemudian disampaikan ke Kepala sekolah SMA Negeri 1 Simpang Empat Sibintun, Karo, Markoni Ginting. Markoni meresponinya positif. Katanya, ia sudah sering kali menyampaikan aspirasi tersebut ke dinas pendidikan. Bahkan dalam Musrenbang (Musyawarah Perencanaan Pembangunan) di tingkat kecamatan, ia juga menyampaikan kondisi murid-murid di sekolah tumpangan.

“Sudah sering saya sampaikan. Saya juga paparkan kondisi anak-anak yang menumpang belajar di SMP Negeri 2 Simpangempat Ndokum Siroga, Karo. Tapi sampai hari ini belum ada kejelasan sikap pemerintah Karo terhadap relokasi sekolah,” gerutunya. Keningnya mengernyit. Dan ia mencoba membuang kekesalannya itu dengan mendongakkan kepala sembari menghembuskan asap rokoknya dari mulut.

Dua pekan sebelumnya, Amir Pinem Kepala Bidang Perencanaan Dinas Pendidikan Karo datang meninjau kondisi sekolah SMP Negeri 2 SimpangEmpat. Dalam tinjauannya itu, ia untuk mendirikan sekolah baru untuk relokasi. Namun, ia mengatakan, harus dicarikan tanah baru untuk pembangunan sekolah baru.

Ada tiga opsi kala itu, yakni: pertama, mendirikan gedung baru di lahan smp tersebut atau dekatsd yakni di desa Baganding. Opsi lainnya, mencari lahan di lokasi lain. Namun hasil dari tinjauan itu belum ada tindak-lanjut. “Kami sudah berusaha.Waktu itu juga sudah disampaikan langsung ke Pak Saroha, namun tak juga ada tindak lanjut. Jadi saya tak bisa berbuat apa-apa lagi,” sedih Markoni.

Markoni memaklumi kencangnya konflik horizontal selama mereka menumpang belajar di gedung SMP Negeri 2 tersebut. “Sering kali rusak meja-kursi atau kaca pecah, anak-anak kita yang dituding. Biar bagaimana pun kita selalu salah. Yang namanya penumpang memang selalu jadi korban,” sambungnya.

Prihatin

Ia juga mengaku prihatin melihat jam belajar anak-anaknya yang cuma 30 menit per les, dan istirahat hanya 10 menit akibat masuk sore. Biasanya kalau  masuk pagi 45 menit per les. Rehat 30 menit (2×15 menit). Bahkan anak-anak yang jauh kewalahan pulang karena kerap tak dapat angkutan ke kampungnya.

Pun jumlah siswa menurun drastis akibat banyak yang memilih pindah sekolah. Dan penerimaan siswa baru tahun 2015 merosot tajam. Jumlah siswa baru  tahun ini cuma 96 (enam orang pindah) sedangkan tahun-tahun sebelumnya lebi dari 120 siswa. “Ada penurunan yang signifikan akibat sekolah ini menumpang belajar di gedung sekolah lain,” imbuhnya.

Keluhan lain, minimnya mobiler sekolah yang akhirnya turut mengganggu proses belajar mengajar anak-anak. Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Markoni yang mengenakan kemeja biru kotak-kotak segera menghambu ke ruang guru. Kepala sekolah berkepala nyaris botak itu mulai kedinginan. Sedang anak-anak masih asyik belajar di dalam kelas, sebagian siswa yang gurunya tidak hadir, berdiri di pintu menikmati rinai hujan. Petang makin terasa. Mega mulai gelap.

Tenda yang dibangun sebagai sekolah darurat untuk membantu anak-anak SMA Negeri 1 Simpangempat belajar, karena sekolah mereka terdampak erupsi Sinabung, Karo.
Tenda yang dibangun sebagai sekolah darurat untuk membantu anak-anak SMA Negeri 1 Simpangempat belajar, karena sekolah mereka terdampak erupsi Sinabung, Karo.

Beberapa hari kemudian, Saroha Ginting dihubungi via telepon seluler. Menanggapi pernyataan Haris, Saroha menjawab, pihaknya sudah menyurvei sekolah tumpangan sekaligus mencari lokasi tanah baru. “Sudah ada tanah seluas 6000 meter persegi hibah dari masyarakat. Lokasinya di desa Baganding. Tapi kami belum tau apa ada sertifikat tanahnya. Nanti kami cari tau dulu,”ujarnya.

Namun celakanya, apa yang disampaikan Saroha bertolak-belakang dengan apa yang diutarakan Amir Pinem. Ini seakan tak ada sinkronisasi antara bawahan dengan atasan. Padahal, dua pekan lalu Amir sudah survey ke sekolah dan mengatakan ke Markoni, bahwa lokasi di Desa Baganding tidak layak dijadikan lahan untuk pembangunan sekolah baru. Karena tak ada bedanya antara desa Baganding dengan kembali ke sekolah asalnya yang di Sibintun. Kedua-duanya masih dalam jangkauan erupsi Sinabung.

Mendapat komentar Saroha yang begituan, Markoni hanya bisa mengusap dada. Ia jadi kesal. “Ya, memang betul. Sudah kami tau tanah itu dekat SD. Tapi Amir Pinem bilang, ‘Itu terlalu dekat dengan Sinabung. Kalau ditarik garis lurus, cuma tiga kilo. Gak cocok di situ dibangun sekolah. Nanti erupsi lagi, kalian pindah lagi.’ Itulah kadang-kadang bingung kita, antara kadis dan bawahannya gak sinkron. Kadis bilang di situ saja, bawahannya bilang gak cocok di situ. Mana yang mau kita ikuti?” gerutu Markoni.

Markoni pening, Saroha dan Amir tak Sinkron, sementara anak-anak masih terbelenggu dalam persoalan ini. “Waktu kubilang agar dibangun sekolah di SMP ini saja, dibikin bertingkat, anggota DPRD Karo gak setuju. Katanya, dimana nanti anak-anak ekstra kurikuler? Padahal ekskul bukan yang utama. Ya, jadi kita diam saja,” pungkas Markoni.

Yanti Sriyulianti dari KerLiP brdiskusi dengan Markoni Ginting, Kepala SMA Negeri 1 Simpangempat, di ruang guru. KerLiP mencoba memperkenalkan sekolah ramah anak dan gerakan sekolah tanggap bencana sejak dini.
Yanti Sriyulianti dari KerLiP brdiskusi dengan Markoni Ginting, Kepala SMA Negeri 1 Simpangempat, di ruang guru. KerLiP mencoba memperkenalkan sekolah ramah anak dan gerakan sekolah tanggap bencana sejak dini.

Awal Mengungsi

EMPAT abad terlelap, suatu malam, yang panjang, di November 2013, Sinabung tiba-tiba siuman. Sekali-kali ia terbatuk-batuk. Melontarkan dahak berupa lahar bara disertai selimut awan panas yang memukul-mukul langit. Puluhan desa porak-poranda. Ladang sayur lantak oleh debu hingga tampak seperti gurun pasir. Dedaunan tanaman lesu dan mati kering terpanggang awan panas.

Tak pelak, sekitar 32.351 jiwa dari 15 desa yang ada di kaki Sinabung terpaksa mengungsi. Puluhan sekolah ditutup. Salah satunya, SMA Negeri 1 Simpangempat, Sibintun yang berada di 4,5 Km, harus diungsikan ke sekolah lain, demi keselamatan anak.

Dampak erupsi Sinabung menghebohkan warga di sejumlah perkampungan yang tinggal di kaki gunung tersebut. Orangtua tunggang langgang mengangkuti tilam, tikar, perkakas dibungkus lampin menuju pengungsian.

Ibu-ibu berlari lintang-pukang, sebagian sambil menggedong bayinya. Para peladang gegas meninggalkan ladang. Dan ternak pun terlantar di kandang. Semua lekas menyelamatkan diri. Posko-posko pengungsian darurat dibangun seadanya.

Syukur, banyak tangan terulur membantu. Bahu-membahu. Berlaksa-laksa doa dihaturkan. Berkardus-kardus bantuan materi datang. Dan penguatan batin bagi para korban datang dari segala penjuru.Para pengungsi mengira, batuknya Sinabung hanya seketika.

Tak dinyana, berbulan-bulan, mendekati setahun, Memasuki awal Januari 2014, Sinabung terus mendehem. Batuk berdahak lava pijar. Dahsyatnya, bahkan menelan korban jiwa. Berulang kali pihak terkait mengundurkan waktu kepulangan ke kampung karena status Sinabung selalu awas.

Kejenuhan di pengungsian pun makin kentara. Anak-anak terganggu belajar. Suara rebut dimana-mana, rengek bocah-bocah dan bayi di tetek ibunya mengganggu nikmatnya tidur di tenda pengungsi.

Belum lagi gempuran hawa dingin angin gunung yang menggigilkan tubuh, sehingga tiap pengungsi harus berusaha menghangatkan tubuh dengan bersembunyi di balik selimut tebal.

Namun, rasa senasib dan sepenanggungan telah menguatkan batin mereka. Sembilan bulan adalah bukan waktu yang singkat. Tidak mudah melaluinya. Apalagi, bagi mereka yang terbiasa hidup penuh aktivitas harian, tiba-tiba pola hidup hanya berdiam di tenda pengungsi. Mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Lebih mengharukan, ketika 300-an siswa dari SMA Negeri 1 Simpangempat, Sibintun harus menumpang belajar di SMP Negeri 2 Simpangempat, desa Ndokum Siroga, Kabanjahe. Kondisi di SMP 2 tersebut, ada dua sekolah yang menumpang belajar. Sehingga jam belajar disusun tiga shif perhari.

Pembagian shiftnya adalah pagi hari bagi anak-anak SMP tersebut, siang untuk sekolah lain, dan sore bagi SMA Negeri 1 Simpangempat. Anak-anak SMA N 1 Simpangempat merasakan perubahan pola belajar. Dulu terbiasa pagi, kini, masuk Sore. “Kami jadi ngantuk. Karena pagi hari kami kerja ke ladang,” ungkap Nur Dinar, salah satu siswa.

Kondisi kelas di SMP Negeri 2 Simpangempat Karo, yang jadi tempat menumpang belajar anak-aak SMA Negeri 1 Simpangempat Sibintun Karo
Kondisi kelas di SMP Negeri 2 Simpangempat Karo, yang jadi tempat menumpang belajar anak-anak SMA Negeri 1 Simpangempat Sibintun Karo

Di sekolah tumpangan, fasilitas belajarnya seperti mobiler kursi-meja terlihat sekarat. Tripleks lapis meja sebagian terkelupas. Jendela kaca banyak yang telah pecah. Plavon bolong-bolong. Papan tulis banyak yang tergores. Cat ruangan kusam, diperkirakan, lama tak direhab. Peletakan sapu dan kain pel sembarangan. Serta sulit menemukan penghapus dan kapur.

Memasuki pintu masuk sekolah, ada aroma yang sangat memualkan. Bau pesing kencing yang menguar dari dua titik. Kamar mandi sekolah di pojok kiri dekat kantor guru dan di pojok kanan dekat ruang kelas tiga. Bau pesing itu tercium ke semua penjuru sekolah tersebut. Setelah dicek, kamar mandi itu ternyata sudah lama sekali tak dipakai.

Kondisi toilet di SMP Negeri 2 Simpangempat Karo, yang tak layak pakai.
Kondisi toilet di SMP Negeri 2 Simpangempat Karo, yang tak layak pakai.

Terbengkalai, dan sampah dan kotoran menumpuk. Sisa-sisa urin juga terlihat kentara di dinding dan lantainya. Karena, anak-anak masih menggunakannya, secara terpaksa. Sulit betul menemukan air bersih di sekolah tersebut. Kondisi belajar yang masuk di sore hari ternyata masih menyimpan duka bagi anak-anak SMA Negeri 1 Simpangempat. Kelas selalu kotor saat mereka temukan.

Bahkan ada tulisan di meja, bangku dan papan tulis: “Hei, anak pengungsi, jangan duduki kursi saya” atau “Jangan kotori kelas kami.” Celakanya, sering kali, anak-anak SMA N 1 Simpangempat dituding sebagai biang kelai kotornya ruang kelas SMP tersebut. “Padahal, kami selalu berusaha menjaga kebersihan,” ungkap Michael, ketua Agen Mesra.

Agen MeSRA

Agen MeSRA adalah anak-anak yang siap bangkit, bersuara dan beraksi mewujudkan Sekolah Ramah Anak yang berkomitmen untuk melembagakan Gerakan Siswa Bersatu Mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Inisiasi pendampingan Agen Mesra dilaksanakan oleh Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) sebagai bagian dari Program Penanganan Psikososial Penyintas Anak SMA Negeri 1 Simpang Empat pasca erupsi Gunung Sinabung.

Agen Mesra didaulat sebagai lembaga baru saat 26 Mei, pada acara Festival GeMBIRA, Gerakan Membangun Indonesia Ramah Anak.
GeMBIRA bersama KerLiP berupaya memperjuangkan terwujudnya Sekolah Ramah Anak untuk memastikan keberpihakan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, sekolah, keluarga dan anak-anak dalam pemenuhan hak dan perlindungan anak secara utuh dan terpadu di daerah bencana.

Sekolah Ramah Anak diyakini efektif membantu tumbuh kembang anak, mendorong partisipasi anak, mampu menggali potensi anak, menolong anak mengembangkan kapasitasnya hingga ia bisa menjulang dengan dukungan keluarga menjadi Kilau Nusantara. Sekolah ramah anak tentunya mengutamakan peningkatan mutu pembelajaran. Proses belajar yang menyenangkan dan konstekstual, mampu menjawab kebutuhan anak dalam tumbuh-kembangnya.

“Ketika belajar menyenangkan, anak merasa lebih nyaman. Mereka akan lebih optimal mengembangkan potensi dirinya. Kita tahu, bukan hal mudah bagi anak untuk menyampaikan gagasan dan harapannya. Perlu diciptakan suasana belajar dan pembelajaran yang memberi kesempatan seluas-luasnya bagi anak untuk berkreasi, berekspresi, bersuara tanpa diskriminasi apalagi kekerasan dan perlakuan salah lainnya yang dapat merendahkan martabat anak,” ujar Yanti Sriyulianti, Chairman of KerLiP.

Lebih jauh, Yanti menjelaskan, hak anak untuk didengarkan dan ditanggapi sungguh-sungguh oleh siapa pun. Sebab dengan begitulah, anak akan merasa dihargai dan ia berani mengungkapkan gagasannya. Sekolah Ramah Anak juga tak lepas dari dukungan guru-gurunya.

Anak butuh guru yang berkompetensi atau menguasai teknik mendidik dan membimbing anak. Menguasai konsep Sekolah Ramah Anak dan payung hukum Konvensi Hak Anak, sehingga ketika berhadapan dengan anak, guru menjadi teladan. Guru selaku ujung tombak perwujudan Sekolah Ramah Anak, sejatinya menjadi ikon bagaimana jadi pandu, jadi teladan dan inspirator bagi anak-anak.

Selain itu, sambung Yanti, fasilitas belajar juga perlu didukung. Setidaknya, standar pelayanan minimal terpenuhi. Sayangnya, yang terjadi bagi siswa SMA Negeri 1 Simpang Empat jauh panggang dari api. Kondisi fasilitas belajar di sekolah tumpangan sangat memiriskan hati. Karena itu, Kerlip berupaya keras mendorong berdirinya sekolah darurat. Alhasil, dengan lobi ke sana-sini, bersinergi dengan pihak BNPB dan TNI, akhirnya lima tenda darurat bisa terpasang di lapangan SKB (Sanggar Kerja Bersama), Karo.

Tak sampai di situ, pemindahan anak dari sekolah tumpangan ke tenda ternyata tak mudah, sebab bangku-meja belajar dan bekerja tak tersedia. Fasilitas pendukung seperti toilet dan air bersih sangat terbatas Beberapa kali lobi dilakukan terhadap Dinas Pendidikan Karo dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara.

Namun hasilnya, mengecewakan. Akhirnya, diambil inisiatif, hanya perwakilan masing-masing kelas yang akan didampingi di sekolah darurat di SKB, yakni sebanyak 25-30 anak. Selebihnya, pendampingan dilakukan di sekolah.

Pendampingan anak di tenda dan disekolah dilakukan secara kontinyu dan progresif. Jaminan dari Kepala Sekolah SMAN 1 Simpangempat mendorong KerLiP untuk menyerahkan persiapan Ujian Nasional untuk peserta didik kelas XII kepada 16 guru yang direkomendasikan untuk menggelar Bimbingan Belajar mandiri diluar yang tersedia dari BNPB. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk tryout dan pemantapan di pagi hari di SD Negeri Surbakti.

Kerjasama dengan tim Psikolog profesional dari USU bernama CPF, Kerlip melakukan penangangan psikososial dengan guru dan siswa. Proses ini juga tak mudah. Karena ada saja perintang seperti paradigma guru yang harus dicerahkan terlebih dulu. Namun hasilnya 100 persen anak-anak kelas XII berhasil lulus.

kondisi kaca kelas pecah
Kondisi kaca kelas pecah

Berbagi Inspirasi
Masa-masa awal pendampingan terasa berat. Upaya menghadirkan sekolah darurat tidak tercapai sepasti diharapkan. Namun semangat Tim KerLiP tak pernah patah arang. “Demi anak, kita harus terus maju,” ungkap Nurasiah Jamil, manager program. Berulang kali, fasilitator dari Bandung dihadirkan. Ada Nia Kuriati, fasilitator yang setia dan tekun serta sangat teliti menilai perkembangan masing-masing anak. Meneropong secara detil potensi masing-masing anak dan mendorong mereka untuk berkreasi.

Pun ada Amilia Agustin yang tangguh dan selalu menghadirkan pembelajaran yang mengasyikkan. Pendampingan dengan tutor sebaya terasa lebih diterima anak-anak. Amilia yang usianya hanya bertaut setahun atau dua dengan anak-anak SMA Negeri 1 Simpang Empat gampang beradaptasi. Begitu pun anak-anak SMA Negeri 1 Simpang Empat tidak merasa digurui oleh Amilia. Anakanak merasa menemukan kakak yang kesannya sangat dekat.

Selain Ami, ada Arlian Puri, penerima BNPB award 2012 peserta didik SMAN 8 Bandung juga sebaya, menginspirasi perubahan mulai dari hal kecil. Kehadiran inspirator inspirator muda tersebut mendorong, dan menantang, anak anak SMA N 1 Simpang Empat untuk menunjukan kiprah. Tak butuh berapa lama, pendampingan berbuah manis. Tampaklah berlian berlian Karo. Ada Nita yang kreatif membuat puisi dan lantang bicara.

Aanak-anak berkegiatan di tenda di Sanggar Kerja Bersama (SKB) di Berastagi. Ada lima tenda dipasang sebagai bantuan tempat belajar bagi anak-anak yang sekolahnya terdampak erupsi Sinabung. Namun tenda itu sudah tak terawat lagi.
Anak-anak berkegiatan di tenda di Sanggar Kerja Bersama (SKB) di Berastagi. Ada lima tenda dipasang sebagai bantuan tempat belajar bagi anak-anak yang sekolahnya terdampak erupsi Sinabung. Namun tenda itu sudah tak terawat lagi.

Ada Hendy Farta Milala yang juga fasih bicara dan jago main musik. Belakangan, secara menakjubkan, bermunculan sosok sosok muda lainnya dengan potensi masing-masing. Ada Michael yang bertanggungjawab serta kreatif dalam hal komputer. Inez dan Andika yang pintar menjadi pembawa acara, Astri si penari yang juga bersuara emas.

Yossi yang semangatnya meledak ledak dan selalu ingin tampil menjulang. Ada Frendy si ‘Suckseed’ yang menciptakan lagu “Kita punya banyak mimpi,” serta Rizky Tanjung ‘Si tukang mual’ yang menggubah lagu “Agen Mesra.”Heliyani ‘si centil’ dan Sri Magdalena ‘si pencuri’ juga tak ingin ketinggalan dalam berkarya. Keduanya jago mencipta puisi dan membacakannya. Anak-anak yang lain juga tak kalah hebat.

Benar, kata Pak Zulfikri Anas, pakar kurikulum, “Tidak ada anak yang bodoh. Semua anak punya kehebatan masing masing.” Kami, saat Pendampingan terhadap anak-anak di Karo telah menyaksikannya. Dan kami tak malu menceritakannya kepada siapa pun. Biar dunia tahu, di Karo ini banyak berlian-berlian yang berkilau ke seluruh peolosok nusantara.

Bangkit Bersuara dan Beraksi
Berlian-berlian muda ini, dari yang pemalu dan pendiam kini berani bersuara. Mereka sambangi kantor-kantor pejabat. Audiensi menjadi corong mereka untuk meneriakan suara mereka. Dari Kabanjahe, pukul 7 pagi, mereka menempuh jalanan dua jam ke Medan untuk audiensi.

Mulai dari Biro Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Utara, di lantai 6 kantor Gubernur Sumut, menjumpai Ibu Rohani Bakkara. Anak-anak berdiskusi tentang langkah-langkah kecil Mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Dukungan dari Biro PPAKB pun diperoleh. 

Terakhir, galang dukungan didapat dari kepala dinas Pendidikan Kabupaten Karo, Saroha Ginting. Kendati dukungan sudah banyak, upaya mewujudkan sekolah ramah anak barulah langkah awal. Perjalanan mengawal komitmen bahwa sekolah ramah anak akan dicetus di Karo harus terus didampingi.

Tak cukup hanya dukungan dari Biro PPAKB, para agen Mesra melanjutkan perjalanan galang dukungan ke kantor kepala dinas pendidikan Sumatera Utara. Bertemu Masri, sang kepala dinas dan Hendri Siregar, sekretarisnya. Masri mengatakan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara ikut mendukung terwujudnya sekolah ramah anak.

Sorenya, Agen Mesra menyambangi kantor USAID PRIORITAS di Jalan Sei Tenang. Diterima Erix Hutasoit, Ahli Komunikasi. Erix secara pribadi mendukung dan berjanji memberikan waktunya untuk pengembangan kapasitas anak berupa pelatihan, sanggar kerja dan diskusi.

Galang dukungan terus digalakan dengan menggelar diskusi terfokus di aula Institut Teknologi Medan difasilitasi oleh DPD KerLiP Sumatera Utara dan mitra. KerLiP mengundang pihak-pihak terkait yang berkewajiban memangku tanggung-jawab dalam upaya Mewujudkan Sekolah Ramah Anak. Mujur, dukungan datang dari banyak pihak. Dukungan juga diberikan oleh dua media surat kabar terbesar di Sumut, Analisa dan Tribun Medan. Dukungan itu seperti tetes tetes embun di tanah gersang.

Pada saat bersamaan, program Safari Gembira dari Agen Mesra sudah dimulai dan akan terus dikerjakan dengan target menjenguk sekolah-sekolah eks SMP masing-masing. Dalam rangka berbagi ilmu, berbagi pengalaman Projek PUSAT (pungut sampah yang terlihat) kini menghadapi tantangan dari sekolah yakni bagaimana program itu bukan isapan jempol melainkan sebuah kebiasaan baru di sekolah dan dimana-mana.

Agen Mesra ditantang menjadi ikon. Sedang program jamban bersih dan pengumpulan air bersih sebotol per anak per hari, kini dalam tahap konsolidasi dengan sekolah tumpangan.

Pergerakan Agen Mesra, sejauh ini kian mantap. Langkah untuk unjuk karya, unjuk kreativitas makin dipancang. Gerakan antikorupsi diinisiasi di sekolah lewat datang tepat waktu. Gerakan “Malu datang terlambat” digagas agar membangun kedisiplinan anak-anak dalam hal mamajemen waktu.

 

Sebab, terlambat, kata Nita Hayani, salah satu agen Mesra, adalah awal korupsi. Korupsi waktu akan membuka pintu korupsi pada hal lain. Partisipasi, kreativitas, keberanian untuk gagal serta semangat berkarya telah ditunjukkan Agen Mesra.

Mereka menyebutnya dalam tagline “Speak n Act”, bicara dan beraksi. Mereka mengaku sebagai pelajar anti kekerasan dan amat cinta keluarga. Mereka percaya, sebagai pelajar cinta terhadap keluarga amat penting. Karena di keluargalah pertama kali disemai benih-benih kebaikan, bibit-bibit karya. Dan dalam tagline #SpeaknAct itu pula mereka bersafari gembira untuk mengikat ilmu lewat berbagi.

Menyaksikan karya nyata Agen MeSRA, semangat yang membara serta kesatuan tekad, adalah satu kebanggaan. Kita yakin, mereka akan bergerak, berderap membawa perubahan secara menghentak sedahsyat pasukan Leonidas. Sepasti petuah Erix yang mereka aminkan kala itu, “Baru kali ini, saya lihat ada anak-anak yang peduli dengan Sekolah Ramah Anak. Bahkan berjuang mewujudkannya.

Atau pesan manis dari Arifin Alamudi, reporter Tribun Medan, “Ayo, adik-adik. Terus semangat belajar. Kalian harus jadi yang terbaik. Keterbatasan fasilitas tidak boleh menyurutkan semangat kalian berkarya. Kalian adalah yang terbaik dari terbaik.” Benar, mereka adalah agen agen pembawa perubahan. Agen pewujud sekolah ramah anak.Biar waktu yang akan menguji, mengasah bahkan menyesah mereka meraih impian.

***

SMP N 2 Simpangempat di desa Ndokum Siroga, Karo. Sekolah ini ada dua sekolah lain menumpang belajar, termasuk SMA Negeri 1 Simpangempat Sibintun.
SMP N 2 Simpangempat di desa Ndokum Siroga, Karo. Sekolah ini ada dua sekolah lain menumpang belajar, termasuk SMA Negeri 1 Simpangempat Sibintun.

Semenjak galang dukungan dan audiensi digelar ke banyak instansi serta stakeholder pendidikan, namun upaya relokasi masih belum juga menpata kejelasan dari Pihak Pemkab Karo dan Dinas Pendidikan Karo.

Setelah satu setengah tahun lalu isu relokasi digelindingkan dan komitmen membantu SMA Negeri 1 Simpangempat diutarakan, teranar, jawaban yang sama kembali dilontarkan Saroha Ginting.”Pencarian lahan bersertifikat masih dalam proses ya,” ujarnya. Pertanyaannya sampai kapan tanah bersertifikasi itu bisa didapat? Sesulit itukah mencari lahan bersertifikasi di Karo?

“Yang jelas,” gerutu Darson Tarigan, salah satu guru di SMA Negeri 1 Simpangempat, “Kami semua sudah gerah terus-menerus menumpang di sekolah lain. Bagaimana ini?”

Dan kegerahan serupa disebutkan anak-anak lain dalam sederet testimoni yang meeka tuliskan. Di lembag-lembar kertas. Semua testimoni itu berisikan, rasa kecewa mereka yang tak bis amendapatkan hak atas pendidikan sewajarnya. Apalagi mereka merasa termarjinalkan karena hak-hak berupa standar pelayanan minimal sama sekali tidak mereka peroleh sudah lebih satu setengah tahun ini. Karena itu, relokasi menjadi sebuah keniscayaan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.