Sektor Manufaktur AS Mungkin Stabil, Perumahan Meningkat

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Washington, Jelasberita.com | Indikator rencana pengeluaran investasi bisnis AS naik pada Mei, tanda tentatif bahwa sektor manufaktur stabil setelah sempat melemah dalam beberapa bulan terakhir. Namun, efek tersisa dari harga minyak yang lebih rendah dan penguatan dolar akan terus membatasi aktivitas pabrik untuk sementara waktu, ungkap para ekonom. Data lain pada Selasa menunjukkan penjualan rumah baru meningkat ke level tertinggi lebih dari tujuh tahun pada Mei.

Sektor manufaktur menyusut di balik keseluruhan peningkatan dalam perekonomian usai menyusut pada awal tahun ini. Meskipun aktivitas pabrik melemah, Federal Reserve AS diperkirakan akan menaikkan suku bunga tahun ini.




Departemen Perdagangan melaporkan pesanan barang modal untuk non-pertahanan, tidak termasuk pesawat, proksi yang diawasi ketat untuk rencana belanja bisnis, naik 0,4 persen bulan lalu. Pesanan barang modal inti turun 0,3 persen pada April.

Gubernur Fed Jerome Powell, Selasa, menyatakan ekonomi kemungkinan akan meningkat pada semester kedua tahun ini dan bisa siap untuk menghadapi kenaikan suku bunga pada September dan peningkatan kedua pada Desember.

Dolar menguat terhadap sejumlah mata uang usai komentar Powell, sementara saham di Wall Street sedikit berubah. Harga surat utang pemerintah AS juga turun karena tawaran safe haven memudar di tengah harapan atas kesepakatan yang bisa mencegah Yunani dari default utang.

Sektor manufaktur, yang menyumbang sekitar 12 persen dari ekonomi AS, telah tergerus oleh dolar dan pengurangan pengeluaran investasi di sektor energi setelah harga minyak mentah tahun lalu merosot lebih dari 60 persen.




Jumlah rig pengeboran minyak AS telah turun mendekati posisi terendah lima tahun, mendorong perusahaan ladang minyak seperti (SLB.N) dan Halliburton (HAL.N) memangkas anggaran belanja modal untuk tahun ini.

Namun, laju penurunan jumlah rig minyak telah melambat dalam beberapa pekan terakhir karena harga minyak mentah menguat. Dolar telah menguat sekitar 12 persen terhadap mata uang mitra dagang utama Amerika Serikat sejak Juni 2014, merusak laba perusahaan multinasional. (Reuters/nardli)

Leave a Reply

Your email address will not be published.