Pabrik Peleburan Timah Tak Punya Izin dan Amdal

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Medan, Jelasberita.com | Warga setempat resah dengan limbah industri rumah tangga peleburan timah di Jalan M Yakub Lubis, Gang Murai, Kecamatan Percut Sei Tuan. Limbah industri tersebut mengeluarkan bau tak sedap yang dikuatirkan bisa menimbulkan inspeksi saluran pernapasan.




Anehnya, warga juga menyebut kalau industri tersebut tak memiliki surat izin berdiri serta persetujuan Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) dari Kadis Bapeldada, Imran (36) warga setempat, saat diwawancarai mengatakan, tiap pagi ia mencium bau busuk dari limbah industri tersebut.




Imran menambahkan, ia sudah 6 tahun bermukim di sekitar areal industri tersebut. Ia mengaku keberatan dengan beroperasinya pabrik yang dianggap pemicu polusi udara dari peleburan timah yang dibuat secara dimasak dan pembuangan limbah dari Batterai.

“Nampaknya saja tempatnya seperti gudang botot. Tapi mereka membuat timah dengan sekala besar dan memproduksi batterai kendaraan. Itu biar supaya gak ada yang tau, karena izin mereka semuanya gak ada. Polusinya jelas dari proses memasak timah dan proses pembuatan Battrai. Kalau sudah masak, asapnya itu bisa pedih kena mata dan dikulit pun bisa gatal-gatal,” keluhnya, Jumat (19/6).

Saat dilacak ke lokasi, kondisi pabrik memang agak menjorok ke dalam perkampungan. Terlihat beberapa pekerja tengah sibuk memasak timah untuk diproduksi dalam bentuk lain. Sayangnya, Budi, yang diketahui pemilik usaha, tidak bisa ditemui di lokasi usahanya guna dimintai konfirmasi. Dihubungi via telepon seluler beberapa kali tapi tak ada respon. Juga sudah dikontak via pesan singkat mengenai konfirmasi izin usaha serta amdal di pabriknya, Budi enggan membalas.




Dua pekerja di rumah produksi milik Budi itu mengatakan kalau bosnya sudah lama keluar dan tidak tau nomor kontaknya. “Pak Budinya keluar. Gak ada dia disini. Nanti saja kemari lagi,” kata seorang pekerja yang mengenakan kaos merah bertubuh kurus dan tinggi.

Sedang beberapa pekerja lainnya juga sedang mempersiapkan bahan pembuatan batterai kendaraan yang rencananya siap dikirim ke para pelanggan toko besar.

Dari keterangan, RP (34) yang pernah mengetahui lokasi pabrik tersebut mengatakan, pemilik usaha yang diketahui bernama, Budi (36) mengirim hasil usaha pabriknya ke penampungnya, di Jalan Brigjen Katamso, Gang Baru serta ke seputaran Jalan Bintang, Medan.

“Pengusahanya juga tinggal di situ, rumahnya yang besar bercat kuning. Usahanya sudah sekitar 3 tahun lebih. Kalau limbah, waktu masak timah itu. Asapnya entah kemana-mana dan pedas dimata. Limbah airnya, kalau tidak salah dialirkan ke sungai. Padahal di sekitar itu, sungai masih dimanfaati warga di sana untuk mandi dan mencuci,” beber RP.

Walau limbah timah masuk golongan B3 atau yang paling berhaya, pihak Kadis Bapelda Deli Serdang, Artini, mengaku menyerahkan hal ini agar ditangani Kadis Disperindag. Pasalnya, pengecekan ke lokasi pabrik baru bisa dilakukan pihaknya setelah pabrik atau tempat usaha dinyatakan legal/resmi.

“Kalau tidak resmi dan pabrik dibuat seperti Home Industri yang belum mengurus izinnya, berarti itu urusan Disperindag. Kalau sudah resmi, mengenai dampak lingkungannya, baru kita tinjau,” kata Artini saat dikonfirmasi via Seluller. (dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.