Keuntungan dan Risiko Investasi Obligasi

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




 

Berinvestasi obligasi adalah salah satu pilihan. Bisa membeli obligasi saat penawaran perdana, bisa juga ketika sudah tercatat di bursa, atau membeli di pasar sekunder. Sebelum mulai berinvestasi, ada baiknya memahami lebih dahulu potensi keuntungan dan risiko dari produk ini. Harus selalu diingat bahwa pasti ada risiko dalam setiap produk investasi. Semakin tinggi keuntungan, semakin besar risikonya. Sebaliknya, semakin kecil keuntungan, semakin rendah pula risikonya.




Ada beberapa keuntungan obligasi sebagai salah satu instrumen investasi. Pertama, memberikan pendapatan tetap (fixed income) berupa kupon. Pemegang obligasi akan mendapatkan pendapatan bunga secara rutin selama waktu berlakunya obligasi. Bunga yang ditawarkan obligasi umumnya lebih tinggi daripada bunga yang diberikan oleh deposito atau SBI.

Kedua, keuntungan atas penjualan obligasi (capital gain). Disamping penghasilan berupa kupon, pemegang obligasi dapat memperjualbelikan obligasi yang dimilikinya. Jika ia menjual lebih tinggi dibandingkan dengan harga belinya maka pemegang obligasi akan memperoleh selisih harga yang disebut capital gain. Jual beli obligasi dapat dilakukan di pasar sekunder melalui perusahaan sekuritas yang menjadi pialang obligasi. Harga obligasi berupa persentase atas nilai pokok obligasi. Penawaran perdana obligasi umumnya pada harga par atau 100%, dan akan bergerak naik dan turun di pasar sekunder.

Bagaimana dengan risiko obligasi? Obligasi memiliki risiko default atau risiko perusahaan tidak mampu membayar kupon obligasi atau risiko perusahaan tidak mampu mengembalikan pokok obligasi saat jatuh tempo. Perusahaan pemeringkat efek akan menurunkan rating perusahaan yang kinerjanya memburuk untuk memberikan peringatan kepada investor. Namun, bisa saja terjadi peristiwa memburuknya kinerja suatu perusahaan berlangsung dalam waktu cepat yang membuat lembaga pemeringkat belum dapat mendeteksinya, sementara perusahaan penerbit obligasi sudah terlebih dahulu tidak mampu membayar kewajibannya.

Ketiga, risiko tingkat suku bunga (interest rate risk). Pergerakan harga obligasi sangat ditentukan pergerakan tingkat suku bunga. Pergerakan harga obligasi berbanding terbalik dengan tingkat suku bunga. Jika suku bunga naik, harga obligasi akan turun. Sebaliknya, jika suku bunga turun maka harga obligasi akan naik. Investor obligasi harus memiliki kemampuan atau informasi analisa untuk memperkirakan tingkat suku bunga di masa depan, sehingga dapat mengambil keputusan apakah akan terus memegang obligasi yang dimilikinya, menjual atau bahkan membeli kembali.




Obligasi merupakan jenis investasi jangka panjang. Jangka waktu obligasi bervariasi mulai dari tiga tahun hingga 10 tahun. Bahkan obligasi pemerintah ada yang berumur hingga 20 tahun. Semakin pendek jangka waktu penerbitan obligasi, semakin kecil pengaruh tingkat suku bunga. Sementara, semakin panjang durasinya maka semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga. Obligasi yang belum jatuh tempo bisa diperjualbelikan di pasar sekunder berdasarkan harga pasar yang berlaku.

Risiko berikutnya adalah risiko inflasi. Investor perlu memperhatikan indikator ekonomi ini. Jika diperkirakan inflasi akan naik, maka investor bisa mempertimbangkan untuk menjual obligasi. Karena apabila inflasi meningkat, maka suku bunga juga akan meningkat. (Tim BEI)

Leave a Reply

Your email address will not be published.