Lulus Jalur Undangan, Mutia Tak Bisa Kuliah

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  





Maya Mutia Sari Hasibuan
Maya Mutia Sari Hasibuan

Medan, Jelasberita.com | Maya Mutia Sari Hasibuan (18), Warga Jalan Denai Gg.Mulajadi Lingkungan 8, Tegal Sari Mandala III Kecamatan Medan Denai lesu. Sebab, ia tak sanggup membayar uang kuliah yang ditetapkan Unimed sebesar Rp 2,5 juta.

Maya, begitu nama panggilannya, diterima di Program Studi Fisika (Non Kependidikan) Unimed, lulus jalur undangan SNMPTN 2015. Sebagai anak yang cerdas dan berhasrat kuliah, informasi kelulusan itu sangat membesarkan hatinya, juga orangtuanya. Namun, sebagai anak dari keluarga kurang mampu, biaya kuliah Rp. 2,5 juta sangat besar baginya.







Orangtuanya, Solihan Hasibuan yang hanya berpenghasilan pas-pasan berusaha meminjam uang, namun tak juga dapat. Ia juga mengupayakan agar mendapat keringanan dari pihak Universitas Negeri Medan. Namun, sejak Selasa (9/6) hingga Jumat (12/6) pukul 17.00 WIB ia mengupayakan berkas-berkas tentang bukti kalau mereka kurang mampu, namun hasilnya, sama sekali tak mendapat keringanan biaya.

“Saya merasa sedih tak bisa kuliah di Unimed pada hal saya lulus melalui Jalur Undangan SNMPTN, meski terlambat memberikan persyaratan yang diminta pihak UNIMED, namun persyaratan itu saya penuhi, dengan limit waktu tanggal12 Juni 2015, sampai pukul 15.00 sore, namun akhirnya, tak ada juga pengurangan uang kuliah, yang ditetapkan Rp.2.500.000, seperti yang disampaikan pak Candra, dan Pak Muslim di Gedung Rektor,” ungkap Maya.

Padahal Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 4151240011 telah terbit. Namun harapan Mutia untuk bisa kuliah telah kandas lantaran besarnya biaya kuliah per semester yang harus ditanggungnya, padahal penghasilan orangtuanya per-bulan cuma Rp.1,2 juta. Berbeda dengan, Fitri Haryani yang dikenakan uang per-smester Rp.1,6 juta padahal pengahasilan orangtuanya per bulan, Rp.1,5 juta. Atau Ade Safitri, dengan penghasilan orangtuanya per bulan Rp.5,5 juta tapi hanya dikenakan uang kuliah per semester Rp.1,9 juta.

Menaggapi isu ini, Humas Unimed, M Surip mengatakan, ada kesalahan dilakukan Mutia saat pertama kali mendaftar jalur undangan yakni mencantumkan penghasilan orangtuanya besar karena mungkin kuatir tak lulus. “Jadi ketika sudah lulus, panitia kemudian menetapkan uang kuliah berdasarkan data yang dimasukkan pertama kali. Tetapi kalau bisa dibuktikan penghasilan orangtuanya segitu (yakni Rp 1,2 juta-red) nanti masih bisa dipertimbangkan. Jadi segeralah diperbaiki. Bawa berkas-berkas bukti penghasilan. Nanti dicek panitia lagi. Saya sudah telepon panitia, katanya masih bisa diperbaiki,” ujarnya Kamis (11/6) sore.




Jumat (12/6), Maya dan orangtuanya segera melengkapi breaks dan membawa bukti-bukti penghasilannya yang menunjukkan gaji orangtuanya kecil. Namun hasilnya, sama sekali tidak ada perubahan atas keputusan tersebut. Sepulang dari Unimed, Maya benar-benar redup semangat.

Mutia dan orangtuanya kini berharap, kepada pemerintah, khusunya Mendikbud RI Anies Baswedan, agar lebih memperhatikan rakyat yang kurang mampu. Seperti pernah diungkapkan Menristek Dikti Muhammad Nasir saat berkunjung ke Unimed, tempo hari, agar seluruh PTN, termasuk Unimed memberikan kesempatan besar kepada anak-anak miskin tapi cerdas untuk bisa kuliah. “Saya minta agar seluruh PTN di tanah air memberikan kesempatan lebih besar bagi anak-anak miskin tapi berprestasi untuk bisa kuliah. Saya harap, anak-anak begini lebih diperhatikan,” ujar Nasir, kala itu. (Dewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.