Jangan Membunuh (diri)!

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  




Bunuh-diri-ilustrasi-aja




Ilustrasi Foto

Oleh: Riduan Situmorang

Mother Teresa merupakan seorang putri India yang sangat populer. Dia merupakan wanita yang tegar dan religius. Dia tak takut, bahkan tak menyerah pada kehidupan. Barangkali, karena persona Mother Teresa inilah mengapa kemudian Elviana Ambarita dibubuhkan dengan nama Therecia. Tetapi, Mother Teresa bukan Elviana Therecia Ambarita. Entah apa sebab, mahasiswa Fakultas Hukum USU yang memperoleh IPK 4,0 ini mengakhiri hidupnya dengan pilihan tak biasa: bunuh diri. Ironisnya, ada kecenderungan bahwa dia sebelumnya sudah terlebih dahulu mempelajari cara-cara bunuh diri dengan benar melalui gadget-nya sehingga bunuh diri ibarat ilmu terapan yang bisa diterapkan.

Bunuh diri sendiri sebenarnya bukanlah hal yang jarang kita dengar. Bahkan, Jepang terkenal dengan aksi bunuh dirinya manakala mereka gagal memimpin. Artinya, bunuh diri sudah ibarat budaya dan ada kecenderungan makin mewabah. Supaya lebih sahih, mari kita ambil data dari WHO. Menurut WHO, selama 10 tahun terakhir terdapat 800 ribu orang yang bunuh diri per tahun. Artinya, setiap 40 detik ada nyawa yang melayang karena bunuh diri. Data yang agaknya lebih provokatif lagi, bunuh diri rupanya justru menjadi salah satu penyebab kematian terbesar kedua pada anak muda: 15-29 tahun. Mengapa anak muda? Apakah karena mereka masih labil? Kiranya para psikolog kita perlu mengadakan studi khusus untuk ini.

Sangat Adil




Bunuh diri itu sendiri sebenarnya sangat adil. Dia menyentuh semua lapisan masyarakat. Dia tak hanya terjadi pada negara miskin, tetapi juga ada pada negara maju. Dia tak hanya menyentuh usia muda, tetapi juga usia tua, termasuk pria dan wanita. Dia bahkan tidak hanya menyinggahi para kaum tertindas, tetapi juga kaum terkenal. Artis Korea yang menurut kita sudah merupakan orang “besar” justru tak lepas dari kasus bunuh diri.

Padahal kalau dipikir-pikir, sangat tidak logis bagi artis Korea untuk bunuh diri. Penggemarnya banyak, kaya, rupawan, hampir tak ada yang kurang. Daul Kim, misalnya. Siapa yang tak kenal dengan dia? Dia sudah manggung di New York, Milan, dan Paris. Tetapi, dia justru ditemukan gantung diri di apartemenyna di Paris pada 2009 silam. Sebelumnya, dia sudah membuat pesan pribadi di blog: semakin besar, aku semakin kesepian. Kalau pesan itu benar, kasus bunuh diri terjadi salah satunya adalah karena kesepian.

Khusus di Indonesia pada tahun ini, kita juga sudah banyak dikejutkan kasus bunuh diri. Di Kediri, 3 April kemarin, satu keluarga (ayah, ibu, anak) bunuh diri. Dari sepucuk surat diketahui bahwa mereka “sengaja” melakukannya karena merasa lelah dengan impitan ekonomi. Mungkin arti lugasnya, mereka kesepian dari perhatian pemerintah. Pada hari yang sama di Subang juga ditemukan sosok pria tergantung di pohon mangga. Masih di hari yang sama, seorang anggota Provost Polres Bireuen tewas bunuh diri dengan senjata api miliknya. Anehnya—mungkin syukurnya—dia melakukannya setelah sebelumnya mengadakan salat Jumat. Kalau dijabarkan, angka-angka itu akan semakin banyak. Sangat banyak!

Maka itu, pertanyaan ini kiranya mendesak dilesakkan adalah mengapa harus bunuh diri? Apakah hak untuk hidup dapat disamakan dengan hak untuk mati sehingga dengan demikian, seseorang bisa saja dengan sesuka hati bunuh diri kapan dan di mana saja? Terus terang, saya tak tahu bagaimana meletakkannya persisnya. Saya hanya tahu, semua orang berhak untuk menentukan hidupnya. Tetapi, apakah itu sama artinya bahwa semua orang berhak menentukan kapan mengakhiri hidupnya?

Kebetulan, negeri ini merupakan negeri yang masih jauh dari sekuler. Kita masih mengakui bahwa Tuhan itu belum mati. Karena itu, kita tentunya punya ketakutan yang sama terhadap neraka. Dengan ketakutan itu, kita sudah pasti berpengharapan agar kelak tidak tinggal di neraka. Bahkan, mengimpikan surga dapat saja disinonimkan dengan mengutuk neraka.

Lalu kalau demikian adanya, mengapa masih ada banyak orang yang mau bunuh diri, padahal menurut agama, dosa paling besar yang bahkan tak terampuni itu adalah bunuh diri? Apakah itu menjadi gambaran bahwa mereka sudah mengiklaskan untuk tinggal di neraka? Belum lagi menurut orang Batak—saya tak tahu suku lainnya—roh orang yang meninggal dengan bunuh diri sama sekali tak bisa diajak “berkomunikasi” melalui ritual. Apakah itu artinya bahwa mereka juga sudah memutuskan dengan rela hati untuk tak berkomunikasi dengan keluarga?

Lebih jauh, bagi siapa pun, membunuh merupakan kasus pidana. Pengadilan bahkan tak jarang menghukum si pembunuh dengan hukuman mati. Lalu, bagaimana dengan membunuh diri sendiri, apakah itu termasuk pidana? Kalau pidana, siapa yang akan dipidanakan? Kalau bukan, apakah itu artinya membunuh tak selamanya dipidanakan?

Keberanian Kebablasan

Maaf, saya menyampaikan pertanyaan ini bertubi-tubi. Tetapi hal itu perlu ditanyakan mengingat sudah ada semacam virus baru bagi manusia untuk bunuh diri. Manusia sepertinya terlalu berani—tepatnya kebablasan—mendefinisikan keberanian. Keberanian dimaknai tidak lagi sekadar rela mati, tetapi rela mematikan diri sendiri. Pada taraf yang lebih religius lebih parah lagi karena ada sekelompok orang yang rela mematikan diri sendiri dan orang lain demi agama. Mereka menyebutnya mati syahid atau martir. Sialnya, mereka justru dicap sebagai pahlawan yang gagah berani.

Terlepas itu suci atau tidak, bagi saya, membunuh siapa pun, terutama diri sendiri merupakan kesalahan secara moral. Karena itu, dia perlu dilawan dengan gerakan yang terukur. Seperti kata juru kampanye antibunuh diri, Johny Benjamin (bayangkan, bukan hanya kampanye antikorupsi saja yang ada), “Saya pikir nkita harus membuat kesadara publik. Pendidikan tambahan di sekolah perlu diberikan karena banyak anak muda sekarang lebih berisiko mengakhiri hidupnya sendiri.”

Artinya, perlu penyadaran massal bahwa hidup hanya sekali dan sama sekali tak bisa dibeli. Bahwa pada praktiknya kemudian ada hambatan, godaan, ujian, cobaan, itu hanya gambaran bahwa kita diberi Tuhan kesempatan untuk lebih kuat. Lagipula, itulah keniscayaan hidup. Kata pepatah, Tuhan tak memberi cobaan yang tak bisa kita emban. Itu berarti bahwa dengan cobaan Tuhan memberi kita kekuatan dan kepercayaan agar kita semakin dilayakkan menempati surga yang telah disediakan-Nya bagi kita. Dunia dan hidup ini tak sesempit daun kelor kawan.

Nah, hal lain yang perlu kita lihat adalah supaya memandang yang bunuh diri tidak sekadar sebagai korban atau pelaku. Bunuh diri bukanlah sesuatu yang timbul dari ruang kosong. Dia bukan kejadian tunggal. Dia terjadi sebagai akibat dari akumulasi peristiwa yang menyesakkan. Kalau itu bunuh diri karena kemiskinan, maka yang paling pantas untuk disalahkan dan karena itu dihukum adalah negara.

Bahkan, di film “Tri Idiots” secara gamblang dikatakan bahwa bunuh diri merupakan pembunuhan. Karena pembunuhan, tentu pesan jangan membunuh orang lain sama artinya dengan jangan membunuh diri sendiri. Jadi, tak perlu rasanya dikritisi dan dikatakan bahwa pesan Tuhan jangan membunuh belum lengkap. Itu sudah cukup lengkap. Memang, seorang filsuf pernah mengatakan, there is no death, only a change of worlds. Hanya, perubahan seperti apa yang kita harapkan dengan bunuh diri? Karena itu, janganlah membunuh diri!

Tentang Penulis

Nama               : Riduan Situmorang

Alamat:           : Jl. Sering No. 100 A Medan

Kegiatan          : Pendidik, Konsultan Bahasa, dan Pegiat Sastra dan Budaya di Medan

No. Rekening  : BNI 0249692678 (Atas nama Riduan Situmorang)

No. Hp.           : 085761434917

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.