Rektor Nommensen: “Jadikan Budaya Batak Sebagai Aset Bangsa dan Dunia”

nommensen




Medan, Jelasberita.com | Rektor Universitas HKBP Nommensen (UHN) Medan Dr Ir Sabam Malau mengatakan, budaya Batak harus dijadikan sebagai aset nasional dan internasional dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara yang dapat mendorong keberhasilan pembangunan. Pasalnya, budaya Batak kaya akan filosofi hidup.

Demikian disampaikan rektor dalam sambutannya yang dibacakan Dr. T. Sihol Nababan, Wakil Rektor I UHN, pada pembukaan Seminar bertajuk “Pulang Kampung: Bersama Melestarikan Budaya Batak” di Ruang Dr. Justin Sihombing, UHN Medan, tempo hari.

Seminar ini diselenggarakan oleh Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak UHN Medan dengan menghadirkan pembicara Dr. Sandra Niessen, Antropolog dari Universitas Leiden Belanda dan MJA Nashir, pembuat film dari Pekalongan, Solo. Seminar dihadiri peserta dari berbagai kalangan (lintas masyarakat) dan mahasiswa.

Menurut rektor UHN, gerakan pulang kampung penting untuk menapatilasi sejarah dan kebudayaan Batak, menemukan filosofi untuk kemudian belajar melestarikan budaya Batak Toba. Ini adalah sebuah gerakan moral untuk mencegah kepunahan budaya. Bahkan Rektor UHN dalam visi dan misinya yang tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan Universitas HKBP Nommensen bertekad menjadikan budaya Batak sebagai aset nasional dan internasional.




Dalam seminar yang diawali dengan kata sambutan dari Kepala Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Budaya Batak, Manguji Nababan, mengatakan budaya Batak sangat kaya dengan nilai filosofi hidup, khususnya  mengenai ulos Batak sebagai aset yang sangat berharga. Diskusi ini memberikan pencerahan intelektual bagi kita untuk terpanggil dalam melestarikan budaya Batak, apalagi di era globalisasi yang rentan menghilangkan identitas.

Manguji Nababan mengapresiasi Dr. Sandra Niessen dan MJA Nashir yang peduli dengan budaya Batak Toba dan memberikan waktunya untuk melestarikan budaya Batak Toba dalam penelitian ilmiah. Manguji Nababan mengatakan Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Budaya Batak UHN akan terus  bermitra dengan Universitas Leiden Belanda untuk terus mengembangkan nilai budaya Batak Toba.




Momentum ini menurut Manguji Nababan sangat penting supaya dunia internasional bisa memahami dan mengenal budaya Batak Toba lebih dekat. Bahwa Budaya Batak itu, khususnya yang berkaitan dengan ulos penuh dengan keunikan secara fisik, tetapi kaya dengan makna hidup yang sangat luhur untuk menjalankan kehidupan dengan hikmat dan bijaksana.

Seminar yang diawali dengan pemutaran film bertemakan proses pembuatan Ulos di Tanah Batak. MJA Nashir mengatakan saat ini budaya di seluruh dunia diperhadapkan pada kepunahan. Untuk itu, perlu kepedulian kita, khususnya pendidikan tinggi. Saat ini menurut MJA Nashir kampung adalah pusat budaya. Untuk itu, gerakan pulang kampung merupakan gerakan moral untuk melihat nilai budaya Batak Toba dan terus digalakkan untuk  melestarikan Budaya Batak Toba.

Dr. Sandra Niessen  yang sudah fasih berbahasa Batak Toba mengatakan, beliau bisa jadi Doktor karena meneliti masalah ulos, mulai dari proses pembuatan sampai utuh menjadi ulos. Antropolog Uinversitas Leiden ini mengatakan, nilai ulos sangat kaya dengan makna hidup dan ini merupakan kearifan lokal yang harus dilestarikan sebagai icon bangsa Indonesia. Budaya Batak adalah aset nasional dan pembangunan budaya sangat menentukan pembangunan secara keseluruhan.

Dr. Sandra Niessen yang banyak meneliti masalah budaya Batak Toba dan menulis buku mengenai Budaya Batak dengan referensi Sitor Situmorang, khususnya ulos Batak (Tekstil Batak) berpesan bahwa gerakan pulang kampung harus digalakkan untuk melestarikan ulos Batak sebagai kekayaan Budaya, mengingat daftar kepustakaan Batak sudah mulai punah.

Dr. Sandra Niessen mengatakan naskah digital mengenai budaya Batak harus dibuat. Mengingat ancaman kepunahan Budaya merupakan fenomena universal yang terjadi, maka tugas kita untuk menjaga budaya Batak sebagai kearifan lokal. Sandra Niessen yang fasih dalam tarombo Batak Toba dan memahami konsep dalihan Natolu sangat bangga dengan budaya Batak Toba yang sangat kaya dengan makna hidup.

Di akhir seminar, Dr. Sandra Niessen mengingatkan kita pentingnya pulang kampung sebagai gerakan kultural dan gerakan moral sebagai wujud kepedulian kita, komitmen kita untuk melestarikan budaya Batak. Dr. Sandra Niessen mengapresiasi Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Budaya Batak karena peduli dengan seminar ini. Kedepannya, kerjasama Pusat Budaya dan Pengakjian Budaya Bata dengan Universitas Leiden akan melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan dan melestarikan budaya Batak untuk menerjemahkan visi dan misi Rektor UHN (Dewa)

Baca Berita Serupa di : Berita pendidikan

 




Leave a Reply

Specify Facebook App ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Facebook Login to work

Your email address will not be published.